Showing posts with label Kenabian. Show all posts
Showing posts with label Kenabian. Show all posts

Saturday, May 3, 2008

NABI

Oleh : Prof. DR. M. Dawam Raharjo

Nabi dan rasul, menurut al-Qur'an adalah manusia biasa. Kelebihannya adalah bahwa nabi dan rasul itu mendapat wahyu dari Allah dan mempunyai kelebihan lain, terutama dalam hal akhlak. Dengan kelebihannya itulah maka para nabi dan rasul mampu memperoleh kepercayaan dari kaumnya dan dari umat manusia umumnya, walaupun dalam sejarah tampak bahwa selalu saja ada manusia yang mendustakan mereka. Dan dalam agama-agama semit, Nabi Ibrahim merupakan bapak mereka, bapak agama monoteis. Nabi Ibrahim tidak dapat disebut sebagai seorang pemeluk agama terlembaga, melainkan seorang yang hanif, yang murni, atau yang lurus, penganut monoteisme murni, yang pasrah pada Tuhan. Ini dapat dijadikan dasar teori dalam analisis perbandingan agama.

Timur Tengah, kerap kali disebut sebagai "negeri para nabi", karena semua nabi berasal dari kawasan itu atau hanya kawasan itulah yang melahirkan nabi-nabi. Pemimpin-pemimpin agama dunia, yang melahirkan agama baru atau memperbarui suatu agama dari kawasan lain, tidak lazim disebut nabi. Tokoh-tokoh seperti Konfusius, Lao-tse dan Mencius dari Cina atau Sidharta Gautama dari India, tidak disebut sebagai nabi, karena memang tidak mengklaim diri sebagai penerima wahyu atau diutus oleh Tuhan. Sekalipun adakalanya tokoh seperti Konfusius disebut sebagai "nabi", istilah itu hanya berfungsi kiasan belaka. Malah Marx, yang anti agama itu pun, ada kalanya misalnya oleh Schumpeter disebut sebagai "nabi" karena perannya sebagai orang yang melahirkan suatu ideologi yang menyerupai agama.

Sekalipun begitu, tokoh keagamaan Amerika, Joseph Smith, pendiri Gereja Yesus Kristus Latter-Day Saints atau Gereja Mormon, yang lahir pada zaman modern, menyebut dirinya dan disebut oleh para pengikutnya sebagai nabi (prophet) dan rasul (apostle), sedangkan para penggantinya, - semacam Paus dalam agama Katolik, yang sehari-hari disebut sebagai Presiden Dewan Pimpinan Gereja, beranggotakan dua belas orang (The Twelve Apostles), berkedudukan di Salt Lake City (Utah, AS) itu adalah the living prophet. Smith sendiri, disebut sebagai nabi, karena mewartakan diri, dengan bukti-bukti tertentu, sebagai penerima wahyu di Palmyra, New York pada 1822, melalui malaikat yang bernama Moroni.

Dalam perkembangan Islam, terdapat pula pemimpin agama yang mengklaim dirinya sebagai nabi. Misalnya, Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908), orang Pakistan pemula gerakan Ahmadiyah. Ia juga dianggap para pengikutnya sebagai Juru Selamat (Messiah) dan Imam Mahdi, penjelmaan Khrisna. Demikian pula Baha'ullah (1817-1892) dari Parsi. Keduanya dianggap sebagai pembawa agama baru diluar Islam Sunni, sekalipun Ahmadiyah masih percaya pada al-Qur'an dan rasul yang sama, Muhammad saw. dan menganggap diri sebagai Muslim sejati. Agaknya, Ahmadiyah mempunyai pengertian yang berbeda tentang nabi. Muhammad saw. adalah Rasul terakhir, tapi nabi, yang mendapat wahyu dari Allah, masih terjadi. Mirza Ghulam Ahmad adalah orang yang merasa telah menerima wahyu semacam itu.

Namun Gerakan Ahmadiyah aliran Lahore, dipimpin oleh Maulana Muhammad Ali, seorang sarjana agama yang pemikirannya menarik perhatian para cendekiawan berpendidikan barat itu, dan pengarang tafsir The Holy Qur'an, tidak menganggap Ghulam Ahmad sebagai nabi, melainkan pembaharu. Ajaran aliran ini, pada dasarnya tidak berbeda dengan aliran sunni. Hanya saja aliran ini cenderung bersifat rasional dalam menafsirkan segi-segi dogmatis Islam guna menghilangkan unsur-unsur mitos. Dengan perkataan lain, ia melakukan demitologisasi dogma Islam, sebagaimana yang dilakukan Karl Bultman dalam agama Kristen Protestan.

Agama Baha'i, agak berbeda. Berkembang keluar dari aliran Syi'ah, menjadi agama pasca Syi'ah, Baha'ullah mengembangkan ajaran-ajarannya menjadi agama universalis dan humanitarian, dengan tekanan pada kesatuan esensial dari semua kepercayaan, pendidikan, persamaan seksual, monogami dan pencapaian perdamaian dunia (John R. Hinnels, Dictionary of Religions, Pinguin Books, 1984). Sekalipun bertolak dari Islam, agama Baha'i melakukan sinkretisasi secara eklektik terhadap ajaran-ajaran agama lain, asal sejalan dengan esensi ajaran Islam. Baha'ullah juga merasa membawa misi kenabian (prophecy) bagi umat manusia.

Dalam kepercayaan Islam, dalam hal ini Sunni, sebelum Muhammad saw., orang yang bertugas sebagai nabi memang banyak. Dalam cerita, yang banyak menghiasi tafsir al-Qur'an, ada yang mengatakan bahwa jumlah nabi sekitar 124.000 orang, di antaranya 315 orang berkedudukan sebagai rasul. Tapi al-Qur'an sendiri hanya mengatakan: "Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu...." (QS. al-Mu'min:78). Kandungan ayat ini memang bisa ditafsirkan, bahwa jumlah nabi itu memang banyak dan hanya sebagian saja yang disebut dalam al-Qur'an.

Dalam al-Qur'an, yang disebut hanyalah 25 Nabi dan Rasul saja. Mereka itu adalah: Adam, Idris, Nuh, Hud, Saleh, Ibrahim, Luth, Isma'il, Ishaq, Ya'kub, Yusuf, Ayyub, Syu'aib, Musa, Harun, Dzulkifli, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa', Yunus, Zakaria, Yahya, Isa dan Muhammad. Di antara 25 orang nabi itu terdapat 5 orang Rasul yang mempunyai kelebihan, yang disebut ulu al-azmi yang berarti "orang yang berhati teguh" dan memiliki kesabaran yang tangguh (QS. al-Ahqaaf:35). Mereka itu adalah Muhammad, Ibrahim, Musa, Isa dan Nuh (baca buku Usuluddin, atau Aqaid berdasarkan Mazhab Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah, anggitan KH. Imam Zarkasyi, pendiri dan pengasuh Pondok Modern, Gontor).

Daftar nama nabi-nabi secara tidak berurutan antara lain disebut dalam QS. al-An'aam:83-86, "Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.(83) Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Ya`qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik,(84) dan Zakaria, Yahya, `Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh.(85) dan Ismail, Alyasa`, Yunus dan Luth. Masing-masingnya Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya),(86)."

Selain itu, sebagian daftar nama para nabi disebut juga di surat lain, yaitu QS. an-Nisaa':163. Sedangkan nama nabi-nabi lain disebut secara terpencar di berbagai ayat dan surat. Dalam buku Qishashul Anbiya (1982) Ny. Hadiyah Salim menyebut bukunya itu sebagai "Sejarah 25 Rasul". Tapi ia menyebut seorang nabi lagi, yaitu Nabi Khaidir, yang ilmunya dikatakan lebih unggul dari Musa itu, memang seorang nabi. Tapi ia bukanlah seorang rasul. Sedangkan Bey Arifin dalam bukunya Rangkaian Cerita dalam al-Qur'an (1971) menyebut nama lain, yaitu Nabi Uzair, seperti disebut dalam QS.at-Taubah:30. Dalam bukunya The Religion of Islam (terjemahan Indonesia, 1980), Muhammad Ali menyebut dua nabi lagi, yaitu nabi Luqman dari Ethiopia dan Zulkarnain dari Parsi (yang menurut dugaannya adalah raja Darius I).

Soal yang hingga kini masih diperdebatkan adalah, apakah Adam itu nabi, rasul, manusia pertama, atau ketiga-tiganya? Bahkan timbul pertanyaan pula apakah Adam itu suatu tokoh historis atau simbolis? seandainya Adam itu tidak tergolong rasul atau nabi, maka jumlah rasul atau nabi hanyalah dua puluh empat. Sebagian mengatakan bahwa al-Qur'an tidak secara tegas menyebut Adam sebagai nabi, melainkan Khalifah fi al-ardh, wakil Tuhan di bumi (Keith Crim, The Perennial Dictionary of World Religions, 1989), simbol makhluk manusia. Tapi justru karena sebutan Khalifah, atau pemimpin makhluk-makhluk lain di bumi, termasuk manusia sendiri itulah, maka Adam dapat disebut sebagai nabi dan rasul. Malahan, Ahmadiyah mengatakan sebaliknya, bahwa Adam as. adalah salah seorang nabi, yaitu nabi yang diutus Allah di antara manusia, yang memang sudah ada sebelumnya.

Menurut kalangan Ahmadiyah, Adam memang simbol manusia, suatu makhluk yang unggul karena kemampuannya mempergunakan akal. Tapi ia bukanlah makhluk pertama satu-satunya. Tuhan memang menciptakan Adam, lambang manusia yang mengawali kehidupan manusia dari taraf yang lebih rendah ke taraf yang lebih tinggi (seperti ditafsirkan oleh kaum evolusionis yang menerima teori Darwin). Tapi makhluk seperti Adam itu lahir di mana-mana di muka bumi, di lingkungan bangsa-bangsa primitif. Sebelum Adam, menurut tafsiran kalangan Ahmadiyah, memang sudah ada manusia yang oleh al-Qur'an disebut sebagai makhluk yang berkecenderungan membuat kerusakan dan menumpahkan darah (QS. al-Baqarah:30). Alasan dari yang menafsirkan demikian itu adalah bagian ayat yang menimbulkan pertanyaan, mengapa malaikat bisa menyebut kecenderungan manusia seperti itu apabila tidak berdasarkan pengalaman historis? (baca umpamanya Saleh A. Nahdi, Adam Manusia Pertama?,1992).

Nabi dan Rasul

Istilah nabi berasal dari kata naba', yang artinya warta (news), berita (tidings), cerita (story), dan dongeng (tale). Ini tentu saja di mengerti sebagai kata yang berasal dari bahasa Arab. Dalam al-Qur'an kata nabiy (jamaknya, nabiyun atau anbiya), berasal dari satu akar kata yang sama yaitu naba' (N-B-'), bersama dengan beberapa kata yang lain seperti nubuah (prophecy ramalan dan prophethood, kenabian), nabba'a dan anba'a (to tell atau bercerita) dan istanba'a (meminta untuk di ceritakan). Kata nabi disebut sebanyak 75 kali dalam 20 surat, sedangkan kata naba' sendiri di sebut sebanyak 29 kali dalam 21 surat.

Salah sebuah ayat yang menyebut nabi adalah dalam QS. Maryam: 30-33 berbunyi,

"Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.(30) dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;(31) dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.(32) Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali".(33)"

Dalam ayat ini Isa menjelaskan dirinya sendiri sebagai hamba Allah biasa, maksudnya bukan putra Allah, dia telah pula diberi kitab, yaitu Injil dan ditetapkan sebagai nabi. Dengan begitu Isa adalah orang yang diberkati Allah dan ia merasakan diberkati Allah dan ia merasakan berkat.Tapi ia mendapat misi kenabian, yaitu menegakkan shalat dan menunaikan zakat.

Seperti telah dijelaskan di atas, pengertian tentang istilah nabiy, berkaitan dengan kata naba' yang maknanya berita, kabar warta atau cerita. Makna sesungguhnya dari kata naba' ini perlu dilihat dalam konteks ayat-ayat al-Qur'an sendiri, seperti misalnya pada QS Ali Imran: 44,

"Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita (anba') ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa."

Ayat ini, menurut Maulana Muhammad Ali, menjelaskan misteri disekitar kisah Maryam dan putranya, Isa. Rasulullah saw. sendiri, menurut keterangan Ali, pernah berdebat dengan orang-orang Kristen Najran dan berargumen, bahwa Nabi Isa, tidak seperti dituduhkan orang-orang Yahudi, adalah anak haram Maryam, tapi juga bukan seperti diyakini oleh orang-orang Kristen bahwa ia adalah Putra Tuhan. Sebagai mana nabi-nabi lain, ia adalah anak Maryam dari perkawinannya dengan Yusuf, tukang kayu, yang berhasil mendapatkan Maryam, melalui tradisi melempar pena untuk menentukan siapa yang akan menjadi suami Maryam.

Itulah yang disebut sebagai "berita", yaitu perkabaran tentang masa lampau yang tidak diketahui. Memang, dalam berbagai ayat, kata naba', diartikan sebagai cerita: tentang Nabi Nuh as. (QS. Yunus: 71) atau kisah dua anak Adam (QS. al-Maidah: 27). Pada QS. al-A'raf:101, naba' adalah riwayat tentang kota, yang sebagian telah diwahyukan kepada Rasulullah saw. Kesemuanya adalah berita tentang masa lampau. Tapi naba' bukanlah sejarah yang diketemukan orang atau diceritakan secara turun temurun, melainkan diwahyukan oleh Allah pada Rasulullah saw. Sungguhpun begitu, oleh Muhammad Ali, naba' diartikan juga sebagai ramalan, seperti umpamanya pada QS. al-An'am:67 "Untuk tiap-tiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui." Di sini, yang dimaksud "berita adalah kejadian yang akan datang. Dan hanya nabi sajalah yang diberi yang diberi kemampuan "meramal" kejadian yang akan datang, karena telah menerima wahyu dari Allah.

Kata naba' ini secara khusus bahkan menjadi judul sebuah surat (surat 78). Judul itu diambil dari ayat 2. Di dua tempat, yaitu dalam surat ini dan QS. Shaad:67, tersebutlah istilah al-naba' al-adhim yang artinya berita besar. Awal surat an-Naba' itu sendiri berbunyi : "Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?(1) Tentang berita yang besar,(2) yang mereka perselisihkan tentang ini.(3) Sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui,(4)."

Para ahli tafsir pada umumnya menginterpretasikan bahwa yang dimaksud dengan pemberitaan besar itu adalah tentang Hari Kebangkitan, dimana setiap manusia akan dimintai pertanggung-jawaban tentang perilaku mereka di dunia.Tapi ada pula sebagian, termasuk Yusuf Ali, yang menafsirkan bahwa berita besar itu adalah seluruh risalah kenabian itu sendiri, yang menjanjikan bahwa: "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan," (QS. an-Naba':31). Berita semacam ini memang tidak disampaikan oleh sembarang orang. Karena berita ini adalah berita wahyu Ilahi. Para nabi dan rasul adalah orang-orang yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan berita semacam ini.

Dalam penjelasan ensiklopedia karya Cyril Glasse, The Concise Encyclopedia of Islam (1989), nabi adalah seorang yang menjalankan tugas kenabiannya dalam kerangka wahyu yang telah ada, berlawanan dengan rasul (pesuruh, utusan, duta) yang membawa wahyu baru. Dalam keterangan ensiklopedia yang sama, istilah Inggris prophet, yang bahasa Arabnya adalah nabi, tunggalnya, atau anbiya', jamaknya, dapat dibagi artinya menjadi dua kelas menurut misinya:

Rasul, secara harfiah berarti pesuruh atau utusan. Kata jamaknya adalah rusul. Al-Qur'an sering pula menyebut para rasul itu dengan istilah al-mursalin, yaitu "mereka yang diutus". Seorang rasul, menurut Glasse mengemban misi membawa religi baru atau kesatuan wahyu baru dalam konteks masyarakatnya. Mereka itu disebut juga ulu al-'azm (al-Ahqaaf:35). Al-Qur'an tidak secara spesifik menyebut para rasul ini diantara para nabi. Tapi ahli tafsir menyebut misalnya Nabi-nabi Nuh as., Ibrahim as., Musa as., Isa as. dan Muhammad saw. sebagai Nabi-nabi dengan kualitas itu. Rasul, biasanya berkaitan atau dekat dengan umatnya, seperti yang dijelaskan dalam QS. Yunus:47,

"Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikitpun) tidak dianiaya."

Sebagai contoh, Nabi Musa dan Harun dikirim oleh Allah pada bangsa Israil yang ditindas oleh Fir'aun. Misi utamanya adalah membebaskan bangsa Israil dari penindasan dan membangun suatu umat baru berdasarkan syari'at Allah di tempat lain yang dijanjikan.

Kata nabi berasal dari kata naba', yang artinya, menurut Maulana Muhammad Ali adalah "pemberitahuan yang besar faedahnya, yang menyebabkan orang mengetahui sesuatu". Imam al-Raghib dalam kitabnya Al-Mufradat fi 'l-Gharib al-Qur'an menambahkan bahwa berita itu bukanlah sembarang berita, tapi berita yang tak mungkin salah. Dalam kata nabi, huruf hamzah-nya telah dibuang.

Tentang istilah nabi ini, Gibb & Kramers memberikan keterangan lain. Mereka mengatakan bahwa istilah ini merupakan pinjaman dari kata Ibrani, nabi dan Aram n-bi'a. Istilah ini baru muncul pada ayat-ayat dalam periode Makkah kedua (Shorter Encyclopaedia of Islam,1953). Tapi keduanya tidak menjelaskan apa arti kata itu. Memang, al-Qur'an sering meminjam istilah-istilah non-Arab yang serumpun dengan bahasa Arab, seperti bahasa Ibrani. Tapi setelah ditampilkan dalam al-Qur'an, istilah-istilah itu selalu mengandung muatan makna baru yang berbeda dari arti lamanya.

Dalam al-Qur'an, kata nabi dan rasul memang dipergunakan secara bergantian. Untuk membedakan artinya, ulama melihat pada arti katanya. Dari asal katanya, istilah nabi menekankan segi kesanggupannya menerima berita Illahi (wahyu), sedangkan kata rasul menekankan pada misinya untuk menyampaikan risalah atau nubuah pada manusia, walaupun rasul, atau utusan, ada kalanya bukan manusia, melainkan juga malaikat (QS. Faathir:1).

Salah satu keterangan tentang nabi dan rasul dalam al-Qur'an diberikan oleh QS. al-An'aam:89,

"Mereka itulah orang-orang yang telah kami berikan kepada mereka kitab, hikmat (pemahaman agama) dan kenabian. Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya (yang tiga macam itu), maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya."

Ayat diatas memberikan penjelasan bahwa nabi itu mempunyai tiga kriteria. Pertama, menerima wahyu yang kemudian terhimpun dalam suatu kitab. Kedua, membawa hukum atau syari'at sebagai pedoman cara hidup, karena itu maka teladan nabi dan rasul itu merupakan sumber hukum. Dan Ketiga, berkemampuan untuk memprediksi tentang berbagai hal di masa yang akan datang, sebagaimana terlihat pada Nabi Nuh, Ibrahim dan Luth yang telah memperingatkan umatnya, sekalipun telah didustakan. Nabi Muhammad sendiri, berdasarkan wahyu Illahi pernah meramalkan dengan tepat kekalahan Parsi dalam berperang melawan Roma. Karena itu maka ayat selanjutnya mengatakan: "Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka..." (QS. al-An'aam:90). Nabi Muhammad saw. juga belajar dari pengalaman nabi-nabi dan rasul-rasul sebelumnya dalam perjuangannya.

Nabi, menurut Muhammad Ali, adalah perantara antara manusia dengan Tuhannya dan utusan Allah pada manusia. Dalam analisisnya tentang konsep sejarah menurut Perjanjian Lama, Erich Fromm mengajukan pertanyaan tentang peranan Tuhan dalam sejarah. Apakah Tuhan menyerahkan sepenuhnya pada kebebasan manusia untuk membentuk sejarahnya sendiri, dan dengan demikian Tuhan hanyalah penonton yang pasif terhadap nasib umat manusia? Ataukah Ia menyatakan kehadiran-Nya dalam sejarah? Fromm menyatakan bahwa jawabnya terletak pada fungsi dan peran para nabi. Peranan Tuhan antara lain adalah mengirimkan utusan-utusan-Nya. Para nabi mempunyai empat fungsi.:

Pertama, Mereka membawa perkabaran tentang adanya Tuhan, yaitu Ia yang mewahyukan diri melalui para nabi dan menjelaskan bahwa tujuan hidup manusia adalah menjadi sepenuhnya manusiawi, yaitu menjadi insan yang mengikuti perilaku Tuhan;

Kedua, Mereka menunjukkan pada manusia, alternatif-alternatif yang bisa dipilih dan konsekuensi-konsekuensi dari pilihan itu. Mereka itu mengekspresikan pilihan-pilihan itu dalam bentuk ganjaran atau hukuman Tuhan, namun pada akhirnya selalu manusialah, dengan tindakannya sendiri, yang membuat pilihan itu;

Keempat, Mereka tidak berpikir tentang keselamatan pribadi saja, melainkan percaya, bahwa keselamatan individu terkait dengan keselamatan masyarakat. Kepedulian mereka adalah terbentuknya masyarakat, yang dibimbing oleh cinta, keadilan dan kebenaran. Mereka menekankan bahwa politik harus ditentukan oleh nilai-nilai moral dan fungsi kehidupan politik adalah realisasi nilai-nilai itu.

Lebih jauh Fromm mengatakan bahwa para nabi adalah pengilham kebenaran. Demikian pula Lao-tse dan Buddha. Tapi para nabi itu pada waktu yang bersamaan, adalah juga pemimpin politik, sangat mendalam kepeduliannya pada tindakan politik dan keadilan sosial. Ruang lingkupnya tidak pernah rohaniah murni, melainkan selalu memikirkan dunia ini. Dengan perkataan lain, spiritualitas mereka selalu dijalani dalam dimensi politik dan sosial. Karena Tuhan menghadirkan diri-Nya dalam sejarah, para nabi tak bisa lain kecuali menjadi pemimpin politik. Dan sepanjang manusia mengambil jalan yang keliru, para nabi tak punya pilihan kecuali mengambil jalan lain dan revolusioner.

Para nabi selalu melihat realitas dan berbicara tentang apa yang mereka lihat. Seorang nabi melihat hubungan yang tak terpisahkan antara kekuatan rohaniah dan ketentuan sejarah. Ia melihat realitas moral menggaris-bawahi realitas sosial dan politik, - suatu konsekuensi yang mesti dihasilkannya. Ia melihat kemungkinan-kemungkinan perubahan dan ia mengumumkan apa yang ia lihat.

Dalam melihat peranan nabi, agaknya Fromm mengambil Musa sebagai model. Tapi apa yang dilukiskannya itu sangat tepat terutama untuk Nabi Muhammad saw. Seorang nabi, dalam "tafsir radikal"nya tentang Perjanjian Lama, Fromm menjelaskan juga bahwa dalam bahasa Ibrani, para nabi itu disebut sebagai roeh atau "maharesi" (seer). Sejak nabi Elijah, salah seorang nabi dari kalangan bangsa Israel, maharesi itu disebut navi, artinya "pembicara" (speaker) atau "juru bicara" (spokesman). Nabi sesungguhnya berbicara tentang sesuatu di masa datang. Tapi sesuatu di masa datang yang seharusnya terjadi itu bukanlah mengenai suatu kejadian biasa, sekalipun diwahyukan oleh Tuhan atau berdasar pengetahuan astrolog.

Ia melihat yang akan datang itu, karena itu melihat kekuatan-kekuatan yang sedang berlaku sekarang, dan konsekuensi dari kekuatan-kekuatan itu, kecuali jika situasi itu dapat dirubah. Seorang nabi, tidak mungkin adalah seorang Cassandra (dewi peramal dalam mitologi Yunani yang dikutuk oleh Apollo bahwa ramalannya tak pernah terjadi). Ramalannya selalu berupa alternatif. Para nabi selalu memberikan ruang bagi kebebasan kehendak dan keputusan.

Seorang nabi, menjadi nabi, bukan karena ia ingin jadi nabi. Seorang nabi, menjadi nabi bukan karena kehendaknya sendiri. Apabila ada orang yang ingin menjadi nabi, maka ia bukanlah nabi. Nabi adalah pilihan Tuhan (al-Anbiya':75). Bahkan banyak nabi pada mulanya menolak misi berat yang dipikulkannya itu. (baca Eric Fromm, You shall be as Gods: A Radical Interpretation of The Old Testament and its Tradition, 1969).

Nabi Pamungkas

Dari sejumlah nabi dan rasul yang disebut dalam al-Qur'an, Nabi Muhammad saw. adalah Nabi dan Rasul yang terakhir. Sesudah beliau tak ada lagi nabi. Pengertian ini bersumber dari sebuah ayat pada QS. al-Ahzab:40 yang mengatakan sesuatu tentang Muhammad,

"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."

Kata Khatam dipakai dalam ayat ini dan bukannya khatim, karena yang dimaksud adalah bahwa Nabi Muhammad saw. bukan sekedar nabi terakhir atau penutup, melainkan juga mengandung arti menggenapi, melengkapi atau menyempurnakan. Hal ini, menurut Muhammad Ali, berkaitan dengan bagian dari QS. al-Maa'idah:3 yang berbunyi: "...Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu...".

Islam, yang dibentuk oleh serangkaian wahyu yang diturunkan dalam jangka waktu kira-kira 23 tahun itu pada nabi Muhammad saw., dalam surat al-Mai'dah itu dinyatakan telah menjadi sempurna. Dalam kaitannya dengan QS. al-Ahzab:40 itu, maka "Islam" yang dibawa oleh Muhammad saw. telah menggenapi dan menyempurnakan Islam yang telah dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya, dari Adam as. hingga Muhammad saw. Dengan perkataan lain, Islam yang tercermin dalam keseluruhan wahyu Allah dalam al-Qur'an tersebut, telah pula meliputi seluruh ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi dan rasul-rasul sebelumnya.

Pengertian bahwa semua agama yang dibawa oleh para nabi dan rasul dalam al-Qur'an adalah agama Islam, menjadi populer oleh keterangan Haji Agus Salim. Sebelumnya banyak orang salah mengerti bahwa Islam itu, bagi kaum Muslim, adalah agama yang dibawakan oleh Muhammad saja, sedangkan yang lain tidak. Menurut al-Qur'an, semua agama itu sama, atau pada mulanya sama. Karena mereka sama-sama menyembah Tuhan yang satu, yaitu Allah. Dalam QS. al-Anbiya':92 dikatakan:"Sesungguhnya umat ini adalah umat yang satu. Dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku." Al-Qur'an dan Terjemahannya, terbitan Departemen Agama, menerjemahkan ayat ini sebagai berikut: "Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.".

Dengan begitu, maka Islam yang dibawakan oleh Muhammad saw. bukanlah agama baru, melainkan agama yang telah dikenal oleh umat-umat terdahulu. Kesemuanya mengajarkan tauhid, yaitu kepercayaan pada Tuhan Yang Maha Esa. Agama yang dibawa oleh Muhammad saw. adalah juga yang diturunkan pada nabi-nabi yang lain, seperti dikatakan dalam QS. Asy-Syuura:13,

"Dia telah mensyari`atkan kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama) -Nya orang yang kembali (kepada-Nya)."

Semua nabi yang diutus oleh Allah membawa misi menegakkan suatu agama dan menggalang persatuan umat. Kesemua agama itu mengajarkan iman pada Tuhan Yang Satu dan memerintahkan beribadah hanya pada Allah. Nabi Hud umpamanya diutus Allah pada kaum 'Ad. Pada kaumnya Hud berkata: "Wahai kaumku, mengabdilah kepada Allah; kamu tak punya Tuhan selain Dia." Kata-kata seperti itu diucapkan juga oleh Nabi Salih pada bangsa Tsamud (QS. Hud:61), dan oleh Nabi Syu'aib yang diutus pada bangsa Madian (QS. Hud:84). Hanya saja, selain mengajarkan tauhid, Nabi Syu'aib mempunyai misi khusus pada kaumnya, seperti tersebut dalam QS. Hud:84, diatas,

"Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu`aib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)."

Misi khusus Nabi Syu'aib adalah memperbaiki etika bisnis yang berlaku pada kaumnya.

Nama Muhammad sendiri disebut dalam al-Qur'an sebanyak 4 kali dan 1 kali sebagai Ahmad (QS. Ash-Shaff:6), yaitu dalam QS. Ali Imran:144; QS. al-Ahzab:40; QS. Muhammad:2; dan al-Fath:29. Dan seperti setelah disebut, nama Muhammad juga menjadi nama dari sebuah surat, yaitu surat 47. Nama surat itu diambil dari perkataan "Muhammad" dalam ayat 2: "Dan orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan mengerjakan amal-amal yang saleh serta beriman (pula) kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang hak dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka."

Nama Ahmad itu menurut al-Qur'an disebut dalam nubuah Nabi Isa seperti yang disebut yang dalam QS. Ash-Shaff:6,

"Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)" Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata".

Dalam ayat ini Nabi Isa as. sendiri juga membenarkan wahyu sebelumnya dan meramalkan datangnya rasul dengan misi yang sama.

Sekalipun nama Muhammad dan Ahmad hanya disebut 5 kali, namun ayat-ayat yang berkaitan dengan Nabi saw. sangat banyak. Misalnya saja dalam QS. al-Qalam:4, al-Qur'an menyebut akhlak Nabi saw. sebagai tangkisan terhadap tuduhan kaum musyrik Makkah bahwa Nabi saw. adalah seorang yang "gila": "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." Dalam QS. at-Takwir:22. tangkisan diatas diulang lagi: "Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila." Serangan kaum musyrik itu bertentangan dengan kenyataan, karena sejak muda, masyarakat Makkah telah menjuluki Nabi sebagai al-amin, orang yang bisa dipercaya.

Pemberian gelar semacam itu tidak pernah diberikan pada orang lain sebelumnya. Sebagai seorang yang dapat dipercaya, Muhammad tidak pernah tercatat berbicara bohong. Sebenarnya menjadi orang yang dapat dipercaya adalah ciri dan syarat seorang nabi. Al-Qur'an sendiri juga memberikan gelar "rasul al-amin" pada beberapa nabi, yaitu Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Salih dan Nabi Luth (QS. asy-Syuaraa':107,125,143 dan 162). Namun, semua Nabi itu telah didustakan kaumnya. Nabi Nuh sendiri pernah mengeluh: "Nuh berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku;"(QS. Asy-Syuaraa':117). Memang Nabi-nabi itu telah diutuskan oleh kaumnya masing-masing. Kaum 'Ad telah mendustakan Nabi Hud (QS. Asy-Syuara:123), kaum Tsamud mendustakan Nabi Salih (QS. Asy-Syuara':141). Demikian pula penduduk Aikah telah mendustakan Nabi Syua'ib (QS. Asy Syu'ara':176).

Seluruh isi surat asy-Syua'ra' (artinya: Para Penyair) diturunkan dengan maksud untuk menghibur Rasulullah saw. Dalam surat itu ditayangkan riwayat para nabi, mula-mula Musa dan saudaranya Harun ketika melawan Fir'aun, Ibrahim, Nuh, Hud, Salih, Luth dan Syu'aib. Semuanya menghadapi persoalan yang sama, yaitu didustakan oleh kaumnya. Padahal mereka membawa pesan yang sama dan mempunyai akhlak yang serupa. Ibrahim adalah orang yang berani mengatakan yang benar (QS. Maryam:41), Musa adalah seorang pejuang yang tulus, tanpa pamrih (QS. Maryam:51), Nuh, Hud, Salih dan Luth adalah orang yang dapat dipercaya, sedangkan Yahya adalah seorang yang sejak kanak-kanak dikenal sebagai manusia bijak, berbakti pada kedua orang tuanya dan tidak sombong (QS. Maryam 12 dan 14).

Setiap karakteristik akhlak pada nabi-nabi tertentu itu tidak saja eksklusif dimiliki oleh nabi yang bersangkutan, tapi menjadi ciri nabi-nabi lainnya, karena semuanya memancar dari ajaran agama yang sama yang mengacu pada Tuhan yang sama (QS. al-Mu'minun:52 dan al-Anbiya:92). Karena itulah al-Qur'an menurunkan kisah para nabi pada Rasulullah saw. agar bisa diambil pelajaran daripadanya, tidak saja bagi beliau sendiri tapi untuk semua orang yang beriman. Khusus bagi Rasulullah saw. sendiri yang lagi mengalami tantangan dan tekanan dari kaum musyrik, kisah nabi itu mempunyai fungsi meneguhkan batin untuk tetap terus berjuang, seperti disimpulkan dalam QS. Huud:120,

"Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman."

Lebih jauh QS. Yusuf:111, mengatakan bahwa kisah-kisah para nabi itu tidak sekedar pelajaran bagi orang-orang yang beriman, tapi juga begi semua orang yang berakal,

"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman."

Dalam menyebarkan ajaran-ajarannya yang bersumber dari wahyu Allah itu, Rasulullah saw. sudah tentu selalu merujuk pada ajaran-ajaran para nabi sebelumnya. Karena itulah perintah Tuhan. Dengan analogi ini, maka pengalaman para nabi juga bermanfaat bagi para ulama dan cendekiawan yang mewarisi risalah nabi.

Para nabi dapat dijadikan contoh oleh para pejuang kontemporer, karena nabi adalah manusia biasa (QS. Ibrahim:11). Pernyataan bahwa para nabi itu adalah manusia biasa juga karena orang-orang kafir itu mengharapkan hal yang tidak-tidak pada nabi dan rasul. Kelebihan para nabi dan rasul hanyalah karena mereka itu dapat wahyu tentang keesaan Tuhan,

"Katakanlah: "Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan (Nya),"

Tuhan yang dimaksud disitu adalah "Tuhan Yang Maha Esa". Pertanyaannya adalah, apakah nama Tuhan itu berbeda-beda dari satu bangsa kebangsa lain? Dalam bahasa Ibrani, Tuhan itu bernama Y-H-W-H, atau Yahweh. Itulah Tuhan yang dikenal oleh Musa, Daud, Sulaiman dan Isa dari kalangan Yahudi. Sedangkan dikalangan bangsa Arab Tuhan itu disebut Allah atau al-Rahman, seperti disebut dalam Q.S. al-Isra':110,

"Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik)..."

Ayat di atas, dihubungkan dengan ayat yang dikutip sebelumnya mengisyaratkan bahwa yang penting, para nabi dari berbagai bangsa itu memberitakan warta yang sama dari Tuhan Yang Maha Esa, dengan bahasa apapun dan dengan nama Tuhan apapun, asalkan sesuai dengan nama-nama indah Tuhan (al-asma' al-husna), misalnya al-Rahman atau yang lain. Allah adalah satu dari antara nama Allah itu, karena itu tidak mengapa jika kita menyeru pada Allah atau pada al- Rahman, karena keduanya adalah Tuhan Yang Maha Esa yang diajarkan oleh semua Nabi utusan Allah itu.

Itulah konsekuensi bahwa kaum Muslim itu harus percaya pada semua nabi sebagai kesatuan, walaupun mereka berasal dari berbagai bangsa dan mempunyai bahasanya sendiri. Para utusan itu mamang di perintahkan untuk menyebarkan ajarannya dengan bahasa kaumnya agar ajarannya itu bisa dimengerti sejelas-jelasnya :

''Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Ibrahim:4). Sebagai konsekuensi lebih lanjut dari ayat di atas, maka sekalipun al-Qur'an itu diturunkan dalam bahasa Arab, tapi hal itu tidak berarti bahwa al-Qur'an hanya untuk bangsa Arab, melainkan untuk seluruh manusia, karena Nabi Muhammad saw. diutus tidak hanya untuk bangsa Arab sebagaimana Nabi Isa as. hanya untuk bangsa Israil, melainkan untuk semua bangsa: "Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui." (QS. Saba':28). Juga dalam QS. al-Anbiyaa':107, "Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.".

Nabi Ibrahim as.

Ibrahim as. adalah salah seorang Nabi dan Rasul yang mempunyai kedudukan istimewa dalam Islam dan namanya disebut dalam do'a shalat. Ibadah haji, rukun Islam yang kelima, berkaitan pula dengan namanya. Orang yang naik haji disebut "memenuhi panggilan Nabi Ibrahim as.". Dalam al-Qur'an, Ibrahim as. disebut sebagai seorang Muslim dan seorang yang hanif, seorang yang tulus dalam percaya dan mengabdi pada Allah swt. Tapi Ibrahim as. sangat dekat dengan Islam karena ia adalah moyang Nabi Muhammad saw., lewat puteranya Ismail as. Ibrahim dan puteranya itu adalah orang-orang yang membangun kembali Ka'bah, yang mula-mula didirikan oleh Nabi Adam as.

Tapi bagi bangsa Ibrani, Ibrahim adalah juga patriach mereka. Ibrahim adalah moyang bangsa Yahudi lewat puteranya Ishak. Dalam kitab Genesis 12 disebutkan bahwa Ibrahim menerima perintah Tuhan untuk meninggalkan kampung halamannya di Ur dan mengembara ke bagian bumi lain, dengan membawa kepercayaan bahwa ia akan menjadi Bapak bangsa-bangsa, dengan tanah yang dijanjikan oleh Tuhan. Kitab Genesis 15:6 juga melukiskan sesuatu yang sama dengan yang dikatakan oleh al-Qur'an, bahwa Ibrahim adalah orang yang lurus (righteous) dan tunduk pada Tuhan. Hal itu terutama dibuktikan dengan kepatuhannya menjalankan perintah Tuhan untuk menyembelih puteranya yang paling dicintai, Ishak, dari perkawinan pertama dengan Sarah. Di sinilah perbedaannya antara keterangan Perjanjian Lama dengan al-Qur'an. Menurut al-Qur'an, yang diperintahkan untuk disembelih adalah Ismail as., putera dari istri keduanya, Hajar; bukannya Ishak.

Dalam al-Qur'an disebutkan bahwa Ibrahim bukanlah seorang Yahudi maupun Nasrani. Disini al-Qur'an bertanya: "Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir?" (Ali Imran:65). Namun al-Qur'an tidak mengingkari bahwa agama yang disampaikan oleh Musa as., dengan kitabnya Taurat, maupun Daud as., dengan kitabnya Zabur, demikian pula Isa as., dengan kitabnya Injil, bersumber pula dari agama Ibrahim as., yang oleh al-Qur'an disebut pula Islam.

Karena itu, maka Ibrahim as. tidak bisa disebut Yahudi dan tidak pula Nasrani, seperti yang mereka klaim, karena agama-agama itu, atau lebih tepatnya, syari'at-syari'at itu, baru lahir kemudian, sesudah nabi Ibrahim as. Dalam hal ini al-Qur'an surat Ali Imran:67, menjelaskan:

"Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik."

Apa yang dilukiskan ayat ini adalah seorang Ibrahim as., bukan seorang pemeluk agama terlembaga (organized religion), khususnya Kristen atau Yahudi, begitu juga "Islam" yang dibawa oleh Muhammad saw., - karena ketiga agama itu baru lahir kemudian -, melainkan agama pribadi Ibrahim, sebagai seorang yang hanif dan Muslim.

Namun disebutkan pula oleh al-Qur'an, dalam QS. Ali Imran:68 bahwa,

"Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman."

Tentu saja yang dikatakan oleh al-Qur'an itu, agar disampaikan oleh Muhammad saw. dan kaum Muslim pada pemeluk agama Yahudi maupun Nasrani, bisa dinilai "subyektif" oleh pemeluk agama-agama itu. Tapi, dengan mengacu pada agama Ibrahim, sebagai bentuk kepercayaan yang paling murni dalam kaitannya dengan ketiga agama itu, maka melalui penelitian sejarah, perbincangan bisa dibawa ke arena obyektif.

Ibrahim adalah Bapak agama monoteis, dengan asumsi bahwa yang disebut agama monoteis dan agama dunia dewasa ini adalah Yahudi, Kristen dan Islam. Suatu penelitian mengenai tiga agama itu perlu menjawab, mana diantara tiga agama itu yang paling dekat dengan agama Ibrahim? Kenyataan dewasa ini menunjukkan bahwa Islam lah yang paling dekat dengan agama Ibrahim. Rukun Islam yang kelima, adalah pelaksanaan dari tradisi yang telah dibina oleh Ibrahim as. dan puteranya Ismail as. Ka'bah, atau al-bait alatiq, rumah kuno, adalah salah satu tujuan ibadat haji. Disitulah terdapat pertanda sejarah yang disebut dalam QS. Ali Imran:97 sebagai maqam Ibrahim, atau petilasan yang ditinggalkan oleh Ibrahim ketika ia dan puteranya membangun kembali rumah suci itu. Agama-agama lain, yaitu Yudaisme dan Kristen, sekalipun mengacu kepada Ibrahim, tapi tidak mempunyai tanda bukti hubungannya, seperti halnya Ka'bah.

Sungguhpun begitu, dengan mengacu pada kepercayaan Ibrahim dan seluruh keturunannya, termasuk Ishak dan Ya'kub, maka titik temu itu harus mengarah pada inti ajaran Ibrahim, sebagai patriach dari tiga agama itu. Itulah sebabnya maka QS. Ali Imran:64 menurunkan sebuah ayat yang dapat dijadikan acuan, yang berbunyi,

"Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (Muslim)".

Ayat itu menjelaskan, bahwa titik temu yang benar antara agama-agama adalah Tauhid, yaitu pengakuan bahwa "Tiada Tuhan melainkan Allah".

Adam, sebagai hanif, menurut Glasse merepresentasikan manusia primordial dan penyerahan diri yang universal pada Realitas Ilahiyah, sebelum manusia terpecah satu dengan yang lain dalam berbagai bentuknya. Agama Ibrahim as., dalam orientasi ini, adalah sebuah penyucian kembali (reconsecration), suatu restorasi terhadap manusia menuju ke fitrahnya, yaitu bentuknya yang paling primordial. Itulah pula yang disebut sebagai millah al-Ibrahim. Dalam QS. al-an'aam:161, istilah hanif diterjemahkan juga sebagai "yang murni" atau yang lurus.

Istilah di atas disebut sebanyak 15 kali dalam al-Qur'an, 7 diantaranya, berkaitan dengan Ibrahim as. Terjemahan yang lazim adalah "agama Ibrahim" (Al-Qur'an dan Terjemahannya terbitan Departemen Agama RI). Tapi untuk membedakannya dengan istilah al-din, yang mungkin dikaitkan dengan agama yang mapan, maka istilah millah, diterjemahkan dengan "kepercayaan" (creed), seperti nampak dalam QS. An-Nisaa':125,

"Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.".

Dari ayat ini nampak bahwa kepercayaan Ibrahim, terutama dalam analisis perbandingannya dengan Yudaisme dan Kristen dijadikan patokan, mana diantara tiga agama dunia itu yang paling dekat dengan kepercayaan Ibrahim as.

Islam yang dibawa oleh Muhammad saw. memang mengacu pada kepercayaan (creed) Ibrahim itu. Islam yang dibawakan oleh Muhammad saw. disebut juga "agama Ibrahim". Hal ini sangat nampak pada firman Allah swt. sendiri dalam QS. al-An'aam:161 berbunyi,

"Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik".

Penamaan Islam sebagai "agama Ibrahim" atau "kepercayaan Ibrahim" itu ternyata memang berdasarkan firman Allah sendiri. Ini diperkuat dengan QS. An-Nahl:123, yang bersifat perintah langsung dari Allah swt. pada Rasulullah saw.,

"Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif." dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan."

Karena itu tidak ada salahnya jika ada seseorang yang menyerukan "kembali pada kepercayaan Ibrahim", lebih-lebih jika seruan itu dilakukan dalam konteks perbincangan tentang agama-agama lain, khususnya Yudaisme dan Kristen, karena seperti itu pulalah seruan Allah pada Rasulullah saw., guna mencari plaform yang sama, yaitu kepercayaan tentang Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam rangka kajian ilmiah, istilah millah al-Ibrahim dapat diformulasikan ke dalam suatu teori tentang kepercayaan monoteisme yang murni, sebagai dasar analisis perbandingan agama. Memang dalam kebudayaan Islam, istilah millah telah berkembang dan berubah dari makna aslinya. Misalnya, saja istilah millet dipakai dalam pengertian "agama resmi" yang dianut dilingkungan Imperium Turki. Tapi istilah itu, dalam penggunaan yang lebih lazim di Turki dan Parsi, diartikan pula sebagai "bangsa", "rakyat" atau "negara". Harus disadari disini bahwa pengertian agama itu berkaitan juga dengan pengertian negara, bangsa dan rakyat, mengingat al-din, juga berarti "ikatan". Tapi istilah millah itu sendiri, sebenarnya mempunyai arti yang berkebalikan dengan al-din, karena yang pertama menunjuk pada "kepercayaan" (creed) atau komunitas spiritual yang tidak bersifat resmi, sedangkan yang kedua menunjuk pada agama tertentu (the religion), seperti Islam, Kristen dan yang lain.

Catatan Akhir

Percaya pada para nabi dan rasul, merupakan salah satu Rukun Iman. Kepercayaan ini sangat penting, karena Nabi dan Rasul, adalah orang yang dipilih oleh Allah swt., untuk menjadi perantara antara manusia umumnya dengan Allah. Dengan percaya pada para Nabi dan Rasul yang membawa kepercayaan yang sama, yaitu yang paling dasar adalah percaya pada Tuhan Yang Maha Esa (tauhid), maka umat manusia bisa memperoleh pegangan yang pasti dan otentik tentang berita yang berasal dari Tuhan.

Nabi dan rasul, menurut al-Qur'an adalah manusia biasa. Kelebihannya adalah bahwa para Nabi dan Rasul itu mendapat wahyu dari Allah dan mempunyai kelebihan lain, terutama dalam hal akhlak, dari manusia lainnya. Dengan kelebihannya itulah maka para Nabi dan Rasul mampu memperoleh kepercayaan dari kaumnya dan dari umat manusia umumnya, walaupun dalam sejarah nampak bahwa selalu saja ada manusia yang mendustakan mereka.

Muhammad saw. adalah Nabi dan Rasul penutup, yang menggenapi ajaran-ajaran yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul penutup, yang menggenapi ajaran-ajaran yang dibawa oleh para nabi dan rasul sebelumnya. Semua agama yang dibawa oleh nabi, disebut Islam, karena kesemuanya mengajarkan sikap "berserah diri pada Allah". Kepercayaan Tauhid yang murni dan asli terutama ditunjukkan oleh kepercayaan Ibrahim.

Agama Islam yang dibawa oleh Muhammad saw. mengacu pada Tauhid yang bersumber pada tauhid yang bersumber dari kepercayaan Nabi Ibrahim as., Nabi kesayangan Tuhan itu. Dibanding dengan agama-agama lain, khususnya agama dunia Yahudi dan Kristen, yang mengacu kepada "agama Ibrahim" itu, maka Islam yang dibawa oleh Muhammad saw. adalah yang paling dekat dengan kepercayaan Ibrahim tersebut.

Dalam komunikasi dan berinteraksi dengan agama-agama lain, khususnya agama-agama Ahli Kitab, maka acuan yang diikuti adalah mencari kata sepakat yang bertitik pusat pada kepercayaan dan kepasrahan yang tulus pada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam hal ini, kepercayaan Ibrahim sebagai bentuk yang paling primordial, dapat dijadikan dasar teori dalam analisis perbandingan agama.

Konsep Muhammad saw Sebagai Penutup Para Nabi

Implikasinya dalam Kehidupan Sosial serta Keagamaan

Oleh : Prof. DR. Nucholish Madjid

Suatu kenyataan sejarah yang amat menarik tentang Nabi Muhammad saw ialah bahwa sejak beliau tampil sekitar lima belas abad yang lalu sampai sekarang tidak pernah muncul tantangan yang cukup berarti atas klaim bahwa beliau adalah penutup segala Nabi dan Rasul. Di mata beberapa orang sarjana Islam terkemuka, seperti Fazlur Rahman, kenyataan itu merupakan bukti dan dukungan bagi pandangan Islam bahwa Nabi Muhammad saw. adalah benar-benar yang terakhir dalam deretan mata rantai para Nabi dan Utusan Allah sepanjang sejarah ummat manusia.
Konsep bahwa Nabi Muhammad saw adalah penutup para Nabi dan Rasul adalah cukup sentral dalam sistem kepercayaan Islam. Dan implikasi konsep itu cukup luas dan penting. Hal itu terbukti antara lain dari adanya beberapa kontroversi yang memakan korban akhir-akhir ini di kalangan ummat Islam, seperti pengkafiran kaum Ahmadiyah oleh Rabithat al-Alam al-Islami dengan dampak pengucilannya di Pakistan. Juga, yang lebih dramatis, sikap permusuhan yang sengit pemerintah Republik Islam Iran terhadap kaum Baha'i (jika memang kaum Baha'i masih dapat dipandang sebagai bagian dari Islam; jika tidak, maka penyebutannya disini menjadi tidak relevan).
Namun agak mengherankan bahwa meskipun doktrin tentang Nabi Muhammad saw itu begitu penting dan sentral dengan implikasi yang luas dan asasi, sedikit sekali para ahli tafsir al-Qur'an yang memberi perhatian dan ulasan kepada masalah pokok ini ketika menjabarkan makna firman Allah yang terkait. Bahkan Sayyid Qutb, seorang ahli tafsir al-Qur'an zaman modern dengan karyanya yang berjilid-jilid, Fi Dhilal al-Qur'an, ternyata membahas masalah ini hanya secara sepintas lalu saja.[1] Tidak bedanya dengan Sayyid Muhammad dengan al-Thaba' Thaba'i, penulis kitab tafsir al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an yang juga berjilid-jilid, juga menyinggung masalah ini secara sekedarnya saja. [2]
Para penafsir al-Qur'an dari zaman modern ini dan yang berlatar belakang pengalaman dalam budaya modern justru lebih menyadari implikasi penting pandangan bahwa Nabi Muhammad saw adalah penutup para Nabi dan Rasul. Dengan referensi silang dalam kitab tafsirnya, Muhammad Asad, misalnya, menunjukkan makna yang lebih luas dan fundamental dari pandangan itu, dengan implikasi yang juga luas dan fundamental. Makalah ini banyak menggunakan pendekatan Muhammad Asad dalam pengembangan argumennya, disamping sumber-sumber lain yang relevan.
Karena pokok pembahasan disini dalam beberapa segi menyangkut masalah 'aqidah (simpul keimanan) maka tentu tidak dapat diremehkan signifikansinya. Karena itu pengembangan lebih lanjut argumen disini oleh mereka yang berwenang secara ilmiah akan sangat disambut gembira.

CONTOH KLAIM KENABIAN: KASUS GHULAM AHMAD DAN JOSEPH SMITH

Sebagai gambaran nyata, di zaman modern ini terdapat beberapa orang pengaku kenabian. Kehadiran mereka tidak memiliki dampak seperti yang diharapkan dari yang benar-benar Nabi dan Rasul, namun mereka mempunyai pengikut. Di India pernah muncul Mirza Ghulam Ahmad yang dipandang oleh para pengikutnya (versi Qadianis, dan bukan versi Lahore) sebagai seorang Nabi. Namun dalam beberapa penjelasan terdapat penegasan bahwa kenabian Mirza adalah jenis "kenabian kecil" (minor prophethood), karena ia "hanya" bertugas meneruskan dan menghidupkan kembali pesan suci Nabi besar Muhammad saw. Keterangan mengenai hal ini dari seorang tokoh gerakan Ahmadiyah terbaca demikian:


Klaim Hazra Mirza Ghulam Ahmad (salam-sejahtera atasnya), ialah bahwa Tuhan telah membangkitkan dia untuk membimbing dan memberi petunjuk ummat manusia; bahwa dia adalah al-Masih yang diramalkan dalam Hadits-hadits Nabi Besar (Muhammad saw) dan Mahdi yang dijanjikan dalam sabda-sabda (Nabi Muhammad saw); bahwa nubuwat (ramalan suci) yang termuat dalam berbagai kitab suci agama tentang tampilnya seorang utusan Tuhan pada zaman akhir juga telah dipenuhi dalam dirinya; bahwa Tuhan telah membangkitkannya untuk membela dan menyebarluaskan Islam di zaman kita; bahwa Tuhan telah memberinya karunia pemahaman mendalam tentang al-Qur'an, dan mewahyukan kepada dia maknanya dan kebenarannya yang paling mendalam; bahwa Dia telah mewahyukan kepadanya berbagai rahasia hidup salih. Dengan karyanya, pesannya, dan teladannya, dia mengagungkan Nabi Besar (Muhammad saw) dan membuktikan keunggulan Islam atas agama-agama yang lain. [3]


Di Amerika muncul seorang bernama Joseph Smith, yang oleh para pengikutnya dari Kristen sekte "The Church of Jesus Christ of Latter-Day Saint" (kaum "Mormon") juga dianggap sebagai Nabi. Tapi, sama halnya dengan hubungan Mirza dengan Nabi Muhammad saw, Smith pun mengaku "hanya" meneruskan dan menghidupkan kembali ajaran Isa al-Masih as, khususnya berkenaan dengan kitab sucinya yang "hilang," yang disampaikan oleh Isa al-Masih kepada penghuni kuno kedua benua Amerika (Utara dan Selatan), yaitu Buku Mormon (The Book of Mormon). Suatu penuturan dalam pengantar Buku Mormon itu terbaca demikian:


Buku Mormon adalah suatu jilid dari kitab suci yang sebanding dengan Bibel. Ia merupakan catatan urusan Tuhan dengan penghuni kuno kedua benua Amerika dan, sebagaimana Bibel, memuat pemenuhan gospel yang abadi.
Buku itu ditulis oleh banyak Nabi kuno dengan ruh kenabian dan wahyu. Kata-kata mereka, tertulis pada lempengan-lempengan emas, dikutip dan diringkas oleh seorang nabi dan ahli sejarah, bernama Mormon...
[4]


Puncak kejadian yang tercatat dalam Buku Mormon ialah kependetaan pribadi Tuhan Yesus Kristus di kalangan kaum Nephites segera setelah kebangkitannya kembali. Buku itu mengemukakan doktrin-doktrin gospel, memberi garis besar rencana penyelamatan, dan memberi tahu manusia apa yang harus mereka kerjakan untuk memperoleh kedamaian dalam hidup ini dan keselamatan abadi dalam hidup yang akan datang.
Setelah Mormon menyelesaikan tulisannya, ia menyerahkan cerita itu kepada anaknya Moroni, yang menambahkan beberapa kata dari dirinya sendiri dan menyembunyikan lempengan-lempengan tadi di bukit Cumorah. Pada tanggal 21 September 1323, Moroni itu sendiri, yang saat itu merupakan makhluk yang dimuliakan dan dibangkitkan kembali, menampakkan diri pada Nabi Joseph Smith dan mengajarinya berkenaan dengan catatan kuna itu serta penerjemahannya yang mesti terjadi ke dalam bahasa Inggris.

Selanjutnya lempengan-lempengan tersebut diberikan kepada Joseph Smith, yang menerjemahkannya dengan anugerah dan kekuatan dari Tuhan. Catatan itu sekarang diterbitkan dalam banyak bahasa sebagai saksi baru dan tambahan bahwa Yesus Kristus adalah Putera dari Tuhan yang hidup dan semua orang yang bersedia datang kepadanya serta menaati hukum-hukum dan ajaran-ajaran gospelnya akan terselamatkan.
Tapi, seperti telah disinggung, dan sebagaimana telah disaksikan oleh sejarah, kehadiran baik Mirza maupun Smith tidak meninggalkan dampak sosial dan spiritual dengan keluasan dan kedalaman seperti yang biasanya ditinggalkan oleh para Nabi terdahulu. Karena itu bagi hampir seluruh kaum Muslim klaim Mirza akan kenabian itu harus ditolak (atau ditafsirkan kembali seperti dilakukan oleh sebagian pengikutnya sendiri dari versi Lahore); dan bagi hampir semua kaum Kristen klaim Joseph Smith pun ditolak, dan kaum Mormon diakui hanya sebagai salah satu saja dari puluhan atau ratusan sekte dan denominasi dalam agama Kristen.
Klaim kenabian atau, apalagi, kerasulan, akan menimbulkan masalah dalam masyarakat, karena logika setiap klaim kenabian atau kerasulan tentu menuntut kepada setiap orang untuk menerima, membenarkan dan "beriman" kepada pengaku itu. Ghulam Ahmad, misalnya, memperlihatkan gejala ini, seperti dengan jelas bisa dipahami dari pernyataan berikut:


Setelah secara singkat menggambarkan klaim al-Masih Yang Dijanjikan (the Promised Messiah), Pendiri Gerakan Ahmadiyah, saya ingin menerangkan kriteria umum yang dengan itu kebenaran pengaku (kenabian) serupa itu bisa dinilai. Jika telah terbukti bahwa pribadi tertentu mendapat tugas Maki sebagai Utusan Tuhan, maka menjadi wajib atas setiap orang untuk menerima pengakuannya itu. [5]


Kaum Mormon pun mempunyai sikap yang serupa, sebagai konsekuensi kepercayaan mereka bahwa Joseph Smith adalah seorang Nabi. Dalam pengantar Buku Mormon dikutip perkataan kita sendiri, demikian: Berkenaan dengan catatan ini Nabi Joseph Smith berkata: "Saya telah katakan kepada para saudara bahwa Buku Mormon adalah buku yang paling benar dari semua buku yang ada di muka bumi, dan batu dasar agama kita, dan seseorang akan menjadi lebih dekat kepada Tuhan dengan menaati ajaran-ajaran buku itu daripada dengan buku lain manapun." [6]
Kegawatan muncul karena setiap sikap menerima atau menolak sesuatu dari pesan Ilahi akan dengan sendirinya bersangkutan dengan masalah keselamatan atau kesengsaraan. Maka logika pengakuan kenabian, lebih sering daripada tidak, mengundang percekcokan tajam, sebab terjadi dalam kerangka kemutlakan (ultimacy). Karena itu pengaku kenabian tentu menghasilkan sistem kepengikutan yang eksklusifistik, yang menampik "orang luar" untuk menyertai mereka dalam panji keselamatan dan kebahagiaan. Dalam penampilannya yang ekstrem, seperti ditunjukkan oleh berbagai perkumpulan yang bersifat kultus (cultic) di banyak negara (terutama Amerika), harapan keselamatan yang dipusatkan dan digantungkan kepada pribadi seorang tokoh akan melahirkan gejala-gejala anti sosial dan penuh permusuhan. Maka agaknya yang diperlukan oleh manusia zaman modern bukanlah tokoh yang mengarah kepada penampilan bergaya cultic, melainkan yang manusiawi biasa, terbuka dan tampil dalam gaya dialogis dengan anggota masyarakat yang lebih luas dalam semangat persamaan hak dan kewajiban. Dan hal ini memerlukan suatu perangkat kepercayaan yang kukuh bahwa sekarang tidak ada lagi yang dibenarkan mengklaim sebagai "petugas" dari Tuhan.


NABI MUHAMMAD PENUTUP SEGALA NABI

Keterangan bahwa Nabi Muhammad saw adalah penutup para nabi dan Rasul diberikan dalam al-Qur'an dalam rangkaian firman Allah dan ajaran-Nya tentang pembatalan praktek tabanni (mengangkat anak, kemudian anak itu diakui seperti anak sendiri, seolah benar-benar mempunyai pertalian darah dengan orang tua angkat bersangkutan, dengan segala konsekuensi kehukuman atau legalnya). Praktek tabanni itu dibatalkan karena tidak sesuai dengan ajaran Islam yang lebih mendalam dan asasi, yaitu ajaran tentang fitrah yang antara lain menghendaki segala sesuatu dinilai, dipandang dan dilakukan berdasarkan kenyataan intrinsiknya, bukan fakta formalnya. Karena tabanni memberi hak kehukuman kepada seseorang anak angkat hanya karena ia dinyatakan sebagai anak sendiri secara lisan (yakni, secara formal), maka praktek itu dianggap tidak fithri.

Dalam sangkutannya dengan Nabi, praktek tabanni (yang beliau lakukan untuk bekas budaknya yang dimerdekakan oleh beliau sendiri, Zayd [ibn Haritsah]) mengakibatkan sebutan Nabi sebagai "bapak" seseorang diantara kaum beriman, yaitu Zayd (maka ia disebut Zayd ibn Muhammad), dengan mengesampingkan kaum beriman yang lain. Maka firman Allah mengenai hal ini terbaca: "Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi..." (QS. al-Ahzab/33:40). Kemudian, mendahului firman itu terbaca firman: "Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka...." (QS. al-Ahzab/33:6.). Sudah tentu yang dimaksud bahwa isteri-isteri Nabi itu adalah ibu-ibu kaum beriman ialah dalam pengertian spiritual. Maka Nabi sendiri, sementara dinyatakan sebagai bukan bapak salah seorang diantara kaum beriman, adalah bapak (spiritual) seluruh kaum beriman, yakni, panutan mereka semua. Inilah yang dapat kita simpulkan dari rangkaian firman-firman yang relevan. Muhammad Asad menjabarkan bahwa penegasan itu mengandung arti penolakan kepada pandangan bahwa adanya hubungan fisik (keturunan) dengan Nabi mempunyai makna spiritual tersendiri; sebaliknya, karena hubungan kebapakan kepada Nabi dan keibuan kepada para isteri beliau itu harus dipahami hanya sebagai hubungan spiritual (dan mustahil sebagai hubungan fisikal), [7] maka kedudukan seluruh kaum beriman dalam hal ini di hadapan beliau adalah mutlak sama. Pengertian ini lebih-lebih lagi sangat logis karena Nabi Muhammad saw adalah Utusan Allah yang terakhir.

Untuk pengertian "penutup" itu al-Qur'an menggunakan istilah "khatam", yang secara harfiah berarti "cincin", yaitu cincin pengesah dokumen (seal, stempel), sebagaimana Nabi Muhammad sendiri juga memilikinya (antara lain beliau pergunakan mereka yang sahkan surat-surat yang beliau kirim ke para penguasa sekitar Jazirah Arabia saat itu). Jadi fungsi Nabi Muhammad saw terhadap para Nabi dan Rasul sebelum beliau ialah untuk memberi pengesahan kepada kebesaran, kitab-kitab suci, dan ajaran mereka. Hal ini tersimpul dari penjelasan tentang kedudukan al-Qur'an terhadap kitab-kitab suci yang lalu, yaitu sebagai pembenar (mushaddiq) dan penentu atau penguji (mahaymin), disamping sebagai pengoreksi (furqan) atas penyimpangan yang terjadi oleh para pengikut kitab-kitab itu. Penegasan itu kita dapatkan dalam al-Qur'an dalam deretan keterangan tentang kaum Yahudi dan Kristen, disertai harapan agar mereka benar-benar menjalankan ajaran agama mereka masing-masing dengan baik, dan dirangkaikan dengan penegasan pluralitas kenyataan hidup manusia, termasuk dan terutama hidup keagamaannya. Di sini akan dikutip deretan firman itu, karena amat patut (dan di zaman sekarang cukup mendesak) untuk disimak dan direnungkan akan makna dan semangatnya, firman Allah SWT. dalam (QS. al-Maidah/5:42-48)

Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.(42)

Dan bagaimanakah mereka mengangkatmu menjadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai Taurat yang di dalamnya (ada) hukum Allah, kemudian mereka berpaling sesudah itu (dari putusanmu)? Dan mereka sungguh-sungguh bukan orang yang beriman.(43)

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.(44)

Dan kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.(45)

Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israil) dengan `Isa putera Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.(46)

Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (47)

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,(48)

Penafsiran terhadap ayat-ayat Ilahi ini amat baku di kalangan para ahli dan 'ulama. Pertama, dalam firman itu terdapat penegasan bahwa para penganut agama, dalam hal ini Yahudi dan Kristen, harus menjalankan ajaran kebenaran yang diberikan Allah kepada mereka melalui kitab-kitab mereka, berturut-turut Taurat dan Injil. Kalau mereka tidak melakukan hal itu, maka mereka adalah kafir dan zalim. Kedua, al-Qur'an mendukung kebenaran dasar ajaran-ajaran dalam kitab-kitab suci itu, tapi juga mengujinya dari kemungkinan pengimpangan oleh para pengikutnya. Jadi, al-Qur'an mengajarkan tentang kontinuitas agama-agama Tuhan -sebagaimana banyak ditegaskan berbagai tempat lain dalam al-Qur'an- sekaligus ajaran tentang perkembangan agama-agama Tuhan itu dari masa ke masa.

Segi kebenaran yang didukung dan dilindungi oleh al-Qur'an ialah kebenaran asasi yang menjadi inti semua agama Allah, khususnya Tawhid atau paham Ketuhanan Yang Maha Esa. Inti agama yang umum itu dinyatakan dalam istilah Arab al-din, yang seperti dijelaskan oleh Muhammad Asad mengandung makna kebenaran-kebenaran agama/spiritual yang asasi dan tidak berubah-ubah, yang menurut al-Qur'an diajarkan kepada setiap Utusan Allah. Jadi semua Nabi dan Rasul membawa ajaran inti keagamaan (din) yang sama, kecuali jika diselewengkan atau diubah oleh para pengikutnya. Namun para Nabi dan Rasul tidak membawa sistem hukum (syir'ah, syari'ah) ataupun cara hidup (minhaj, way of life) yang sama. Perbedaan dalam segi ini membawa kepada adanya kenyataan plural agama-agama, yang sepanjang ajaran al-Qur'an tidak perlu kita persoalkan, karena itu sudah menjadi kehendak Allah (Dia tidak menghendaki masyarakat tunggal manusia), dan Allah pula yang akan menjelaskan adanya perbedaan ini. [8]

Dari urutan dan logika ajaran al-Qur'an itu dapat dilihat letak pandangan bahwa al-Qur'an adalah kulminasi semua kitab suci, dan bahwa penerimanya, yaitu Nabi Muhammad saw adalah penutup para Nabi dan Rasul. Sebab ajaran yang dibawakannya adalah perkembangan akhir dari semua agama, menuju kesempurnaan. Maka Nabi Muhammad sebagai penutup segala Nabi juga berarti bahwa beliau diutus untuk sekalian ummat manusia:

"Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk". (QS. al-A'raf/7:158).

Firman ini, dilihat dari letaknya, merupakan interpolasi atas deretan keterangan tentang Nabi Musa dan keturunan Israel. Maksudnya ialah menjelaskan bahwa sementara Nabi-nabi terdahulu dan ajaran-ajaran yang dibawanya tertuju khusus kepada bangsa, tempat dan zaman tertentu, namun Nabi Muhammad dan al-Qur'an tertuju kepada seluruh ummat manusia, tanpa terikat oleh bangsa, tempat maupun zaman tertentu. Sebab sesudah Nabi Muhammad saw tidak akan lagi ada Nabi, dan sesudah al-Qur'an tidak diturunkan lagi kitab suci. [9] Oleh karena itu Nabi Muhammad saw juga disebut sebagai bukti rahmat atau kasih Allah kepada seluruh alam, khususnya seluruh ummat manusia, firman Allah SWT. (QS. Al-Anbiya/21:107-109) :

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.(107) Katakanlah: "Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah: "Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa, maka hendaklah kamu berserah diri (kepada-Nya)".(108) Jika mereka berpaling, maka katakanlah: "Aku telah menyampaikan kepada kamu sekalian (ajaran) yang sama (antara kita) dan aku tidak mengetahui apakah yang diancamkan kepadamu itu sudah dekat atau masih jauh?".(109)

Jadi paham Tawhid atau Ketuhanan Yang Maha Esa adalah inti ajaran al-Qur'an, sebagaimana juga inti ajaran para Nabi yang lain. Kita diperintahkan untuk tunduk (Islam) kepada Tuhan Yang Maha Esa itu. Dan ajaran inti ini telah disampaikan Nabi kepada ummat manusia tanpa perbedaan. Dengan kata-kata lain, ajaran adalah universal. Muhammad Asad menjelaskan segi-segi yang mendukung universalitas al-Qur'an, yaitu, pertama, seruan al-Qur'an tertuju kepada seluruh ummat manusia, tanpa mempedulikan keturunan, ras dan lingkungan budayanya: kedua, fakta bahwa al-Qur'an menyeru semata-mata kepada amal manusia dan karenanya, tidak merumuskan dengan yang bisa diterima atas dasar kepercayaan buta semata; dan akhirnya, fakta bahwa -berbeda dari semua kitab suci yang diketahui dalam sejarah- al-Qur'an tetap seluruhnya tak berubah dalam kata-katanya sejak ia diturunkan dalam belasan abad yang lalu dan akan selamanya demikian keadaannya, karena ia diantara sedemikian luas, sesuai dengan janji Illahi. "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (QS. al-Hijr/15:9). Berdasarkan tiga daftar isi muka al-Qur'an merupakan tahap akhir wahyu Tuhan, dan Nabi Muhammad adalah penutup segala Nabi. [10]
Implikasi bahwa al-Qur'an menyeru kepada akal, dan karenanya tidak ada dogma yang harus diterima tanpa sikap kritis, ialah bahwa al-Qur'an terbuka bagi setiap orang yang akan mencoba untuk menangkap pesan-pesan Ilahi di dalamnya. Keterbukaannya bagi setiap orang itu benar-benar sejalan dengan tekanan atas adanya tanggung jawab pribadi setiap orang kepada Allah kelak di akhirat, yang ajaran ini sendiri membawa konsekuensi tidak dibenarkannya sistem perantaraan bagi seseorang kepada Allah melalui lembaga-lembaga keagamaan seperti kependetaan. Setiap orang adalah pendeta untuk dirinya sendiri, dalam arti bahwa dia sendirilah yang mampu membawa jiwanya untuk mendekat kepada Allah, bukan orang lain.

Kemudian, implikasi dari prinsip ini ialah bahwa manusia tidak lagi perlu kepada pembimbing keruhanian melainkan dirinya sendiri setingkat dengan usahanya memahami ajaran Kitab Suci yang terbuka itu. Mungkin ia memerlukan bantuan dari seorang atau para sarjana (ulama), atau pemikir, atau pembaharu, namun tidak kepada seorang atau para tokoh dengan kekuasaan spiritual. Ini ditegaskan, misalnya, oleh A. Yusuf Ali dalam tafsirnya uraiannya atas ayat "penutup (khatam) pada Nabi:"
Jika sebuah dokumen telah distempel, ia telah lengkap, dan tidak boleh ada tambahan. Nabi Besar Muhammad mengakhiri garis panjang para rasul. Ajaran Tuhan tetap berlanjut, dan akan tetap terus demikian, namun tidak pernah ada dan tidak akan ada lagi Nabi sesudah Muhammad. Zaman akhir memerlukan para pemikir dan pembaharu bukan Nabi-nabi. Ini bukanlah perkara sewenang-wenang. Ia merupakan keputusan dengan penuh pengetahuan dan kebijaksanaan: "sebab Allah mengetahui sepenuhnya akan segala sesuatu." [l1]

Maka kesimpulannya ialah sungguh banyak implikasi positif, baik sosial maupun keagamaan, dari ajaran bahwa Nabi Muhammad s.a.w. adalah penutup segala Nabi. Dengan berakhirnya kemungkinan ada Nabi dan Kitab suci serta agama sesudah Nabi Muhammad, al-Qur'an dan agama Islam, maka manusia tinggal harus mengembangkan apa yang telah diwariskan itu, dalam semangat persamaan hak dan kewajiban, dan dengan penuh rasa tanggung jawab pribadi kepada Allah di akhirat. Dan dengan begitu pula maka manusia terbebas dari keharusan tunduk tidak semestinya kepada sesamanya, dan terbebas pula dari godaan cultic dan mitologi. Jalan lurus terbentang di hadapannya, dan tinggallah ia harus menempuhnya sesuai dengan kemampuannya. Maka konsep Nabi Muhammad sebagai penutup segala Nabi terkait erat dengan semangat ajaran Tauhid.

Catatan Kaki

1. Lihat Muhammad Sayyid Qutb, Fi Dhilal al Qur'an, 8 jilid (1386 H/1967 M), jil. 6, juz 22, hh. 30. Di situ masalah Nabi Muhammad s.a.w. sebagai penutup para Nabi disinggung secara sangat minimal hanya dalam dua baris.[Back]

2. Lihat al-Sayyid Muhammad Husayn al-Thaba'thaba'i, al-Mizan fi Tafsir al Qur'an, 21 jilid (Beirut: Mu'assasat al-A'lami li al-Mathbu'at, 1393 H/1979 M), jil. 16, h. 327. Di situ hanya disebutkan dua Hadits yang tentang Nabi Muhammad s.a.w. sebagai penutup para Nabi. [Back]

3. The claim of Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, (upon whom be peace), is that God has raised him for the guidance and direction of mankind; that he is the Messiah fortold in the Traditions of our Holy Prophet in the Mahdi promised in his Sayings; that the prophecies contained in the different religious books about the advent of a divine messenger in the latter days have also been fulfilled in his person; in our time; that God has raised him for the advocacy and promulgation of Islam in our time; that God has granted him insight into the Holy Qur'an, revealed to him its inner-most meaning and truth; that He has revealed to him the secrets of a virtuous life. By his work, his message, and his example, he has glorifled the Holy Prophet and demonstrated the superriority of Islam over other religions." (Hazrat Haji Mirza Bashiruddin Mahrud Ahmad, Invitation to Ahmadiyyat [Lahore Ilmu Printing Press, 1961], h. 56). [Back]

4.The Book of Mormon is a volume of holy scripture comparable to the Bible. It is a record of God's dealings with the ancient inhabitants of the Americas and contains, as does the Bible, the fullness of the everlasting gospel.
The books was written by many ancient prophets by the spirit of prophecy and revelation. Their words, written on gold paltes, were quoted and abridged by a prophet-historian named Mormon...
The crowing event recorded in the Books of Mormon is the personal ministry of the Lord Jesus Christ among the Nephites soon after his resurrection. It puts forth the doctrines of the gospel, outlines the plan of salvation, and tells men what they must do to gain peace in this life and eternal salvation in the life to come.
After Mormon completed his writings, he delivered the account to his son Moroni, who added a few word of his own and hid up the plates in the hill Cumorah. On September 21, 1823, the same Moroni, then a glorified, resurrected being, appeared to the Propet Joseph Smith and instructed him relative to the ancient record and its destined translation into the English language.
In due cource the plates were delivered to Joseph Smith, who translated them by the gift and power of God. The record is now published in many languages as a new and additional witness that Jesus Christ is the Son of the living God and that all who will come into him and obey the laws and ordinances of his gospel may be saved. (The Book of Mormon, Another Testament of Jesus Christ [Salt Lake City, Utah, Amerika Serikat: The Church of Jesus Christ of Latter-Day Saints, 1981], "Introduction"). [Back]

5.Having described briefly the claim of the Promised Messiah, the Founder of the Ahmadiyya Movement, I wish to enumerate the major criteria by which the truth of such a claimant can be judged. When it is proved that a certain person is divinely commissioned a Messenger of God, it becomes incumbent upon everyone to accept his claim. (Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, h. 57). [Back]

5. Concerning this record the Prophet Joseph Smith said: "I told the brethren that the Book of Mormon was the most correct of any book on earth, and the keystone of our religion and a man would get nearer to God by abiding by its precepts, than by any other books." (The Book of Mormon, Introduction). [Back]

6. Muhammad Asad The Message of the Qur'an (London: E.J. Brill, 1980), h. 647, catatan 50). [Back]

7. Selanjutnya kami persilakan menelaah keterangan Muhammad Asad yang cukup panjang lebar dan amat berguna, sbb:
The expression "every one of you" denotes the various communities of which mankind is composed. The term syir'ah (or syari'ah) signifies, literally, "the way to a watering place" (from which men and animals derive the element indipendsable to their life), and is used in the Qur'an to denote a system of law necessary for a community's social and spiritual welfare. The term minhaj, on the other hand, denotes an "open road," usually in an asbstract sense: that is, "a way of life." The term shir'ah and minhaj are more restricted in their meaning than the term din, which comprises not merely the laws relating to aparticular religious but also the basic, unchanging spiritual truths which, according to the Qur'an, have been preached by every one of God's apostles, while the particular body of laws (syir'ah or syari'ah) promulated through them, and the way of life (minhaj) recommended by them, varied in accordance with the exigencies of the time and of each community's cultural development. This "unity in diversity" is frequency stressed incorruptibility of its teachings as well as of the fact that the Prophet Muhammad is "the seal of all prophet," i.e. the last of them -the Qur'an prepresent the culminating point of all revelation and offers the final, perfect way to spiritual fulfilment. This uniqueness of the Qur'anic message does not, however, preclude all adherents of earlier faiths from attaining to God's grace: for -as the Qur'an so often points out- those among them who believe uncompromisingly in the One God and the Day of Judgment (i.e. in individual moral responsibility) and live rightously "need have no fear, and neither shall they grieve." (Asad, hh. 153-4, catatan 66). [Back]

8. Ikuti keterangan menarik dari Muhammad Asad berikut:

This verse, placed paranthetically in the midst of the story of Moses and the children of Israel, is meant to elucidate the preceding passage. Each of the earlier prophets was sent to his, and only his, community: thus, the Old Testament addresses it self only to the children of Israel; and even Jesus, whose message had a wider bearing, speaks of himself as "sent only unto the lost sheep of the house of Israel" (Matthew xv. 24). In contrast, the message of the Qur'an is universal -that is, addressed to mankind as a whole-and is neither time- bound nor cenfined to any particular cultural environment. It is for this reason that Muhammad, through whom this message was revealed, is described in the Qur'an (21:107) as an evidence of "(God's) grace toward as the world" (i.e. toward all mankind), and as "the Seal of all Prophets' (33:40) -in other words, the last of them. (Asad, h. 227, catatan 126). [Back]

9. The universality of the Qur'anic revelation arises from there factors: firstly, its appeal to all mankind irrespective of descent, race or cultural environment; secondly, the fact that it appeals exclusively to man's reason and, hence, does not postulate any dogma that could be accepted on the basis of blind faith alone; and finally, the fact that -contrary to all other sacred scriptures know to history- the Qur'an has remind entirety unchanged in its wording ever since its revelation fourteen centuries ago and will, because it is so widely recorded forever remain so in accordance with the divine promise, "it is We who shall truly guard it (from all corruption)" ... It is by virtue of these three factors that the Qur'an represents the final stage of all divine revelation, and that the Prophet through whom it has been conveyed to mankind is stated to have been the last (in Qur'anic terminology, "the seal") of all prophets. (Asad, h. 502, catatan 102). [Back]

10. When a document is sealed, it is complete, and there can be no further addition. The Holy Prophet Muhammad closed the long line of Apostles. God's teaching is and will be continuous, but there has been and will be no Prophet after Muhammad. The later ages will want thinkers and reformers, not Prophets. This is not an arbitrary matter. It is a decree full of knowledge and wisdom: "for God has full knowledge of all things." (A. Yusuf Ali, The Holy Qur'an, [Jeddah: Dar al-Qiblah, 1403 H], h. 1119, n. 3731).