diskursus keislaman, artikel Islam, bahan makalah Islam, pendidikan Islam,sosiologi Islam, Hukum Islam, Politik Islam,Sejarah Islam, penelitian Islam, islamic studies, wacana Islam, etc
Friday, April 3, 2009
Soal ujian bahasa arab sma/ma 2009
http://rapidshare.com/files/217183817/soal_bahasa_arab_MA_SMA_2009.doc.html
Monday, June 16, 2008
sastra dalam peradaban islam
Oleh: heri ruslan
Sastra dalam bahasa Inggris dikenal sebagai literature. Menurut Oxford English Dictionary, sastra berasal dari kata ‘littera’ yang artinya tulisan yang bersifat pribadi. Sedangkan dalam bahasa Arab, sastra disebut adab yang berasal dari sebuah kata yang berarti ‘mengajak seseorang untuk makan’ dan menyiratkan kesopanan, budaya, dan pengayaan.
Sastra menempati posisi yang terbilang penting dalam sejarah peradaban Islam. Sejarah sastra Islam dan sastra Islami tak lepas dari perkembangan sastra Arab. Sebab, bahasa Arab merupakan bahasa suci Islam dan Alquran. Bahasa Arab dalam bentuk klasiknya atau bentuk Qurani mampu memenuhi kebutuhan religius, sastra, artistik dan bentuk formal lainnya. Sastra Arab atau Al- Adab Al-Arabi tampil dalam beragam bentuk prosa, fiksi, drama, dan puisi.
Lalu bagaimanakah dunia sastra berkembang dalam peradaban masyarakat Islam? Sejatinya sastra Arab mulai berkembang sejak abad ke-6 M, yakni ketika masyarakat Arab masih berada dalam peradaban jahiliyah. Namun, karya sastra tertulis yang tumbuh era itu jumlahnya masih tak terlalu banyak. Paling tidak, ada dua karya sastra penting yang terkemuka yang ditulis sastrawan Arab di era pra-Islam. Keduanya adalah Mu’allaqat dan Mufaddaliyat.
Orang pertama yang mengenalkan dunia Barat dengan sastra Arab jahili adalah William Jones (1746 M -1794 M), dengan bukunya Poaseos Asiaticae Commen tarii Libri Sex atau penjelasan Mu’allaqaat As-Sab’a yang diterbitkan tahun 1774 M. Sastra Arab jahili memiliki ciri-ciri yang umumnya yang menggambarkan suatu kebanggaan terhadap diri sendiri (suku), keturunan, dan cara hidup.
Sastra Arab memasuki babak baru sejak agama Islam diturunkan di Jazirah Arab yang ajarannya disampaikan melalui Alquran. Kitab suci umat Islam itu telah memberi pengaruh yang amat besar dan signifikan terhadap bahasa Arab. Bahkan, Alquran tak hanya memberi pengaruh terhadap sastra Arab, namun juga terhadap kebudayaan secara keseluruhan.
Bahasa yang digunakan dalam Alquran disebut bahasa Arab klasik. Hingga kini, bahasa Arab klasik masih sangat dikagumi dan dihormati. Alquran merupakan firman Allah SWT yang sangat luar biasa. Terdiri dari 114 surat dan 6666 ayat, Alquran berisi tentang perintah, larangan, kisah, dan cerita perumpamaan itu begitu memberi pengaruh yang besar bagi perkembangan sastra Arab.
Sebagian orang menyebut Alquran sebagai karya sastra terbesar. Namun, sebagian kalangan tak mendudukan Alquran sebagai karya sastra, karena merupakan firman Allah SWT yang tak bisa disamakan dengan karya manusia. Teks penting lainnya dalam agama Islam adalah hadits atau sunnah.
Penelitian serta penelusuran terhadap masa-masa kehidupan Nabi Muhammad SAW telah memicu para sarjana Muslim untuk mempelajari bahasa Arab. Atas dasar pertimbangan itu pula, para intelektual Muslim mengumpulkan kembali puisi-puisi pra-Islam. Hal itu dilakukan untuk mengetahui bagaimana sesungguhnya kehidupan Rasulullah sampai akhirnya menerima wahyu dan menjadi Rasul.
Jejak dan perjalanan hidup Muhammad SAW yang begitu memukau juga telah mendorong para penulis Muslim untuk mengabadikannya dalam sebuah biografi yang dikenal sebagai Al-Sirah Al-Nabawiyyah. Sarjana Muslim yang pertama kali menulis sejarah hidup Nabi Muhammad adalah Wahab bin Munabbih. Namun, Al-Sirah Al-Nabawiyyah yang paling populer ditulis oleh Muhammad bin Ishaq.
Studi bahasa Arab pertama kali sebenarnya telah dilakukan sejak era Kekhalifahan Ali RA. Hal itu dilakukan setelah khalifah melakukan kesalahan saat membaca Alquran. Dia lalu meminta Abu Al-Aswad Al- Du’ali untuk menyusun tata bahasa (gramar) bahasa Arab. Khalil bin Ahmad lalu menulis Kitab al- Ayn - kamus pertama bahasa Arab. Sibawaih merupakan sarjana Muslim yang menulis tata bahasa Arab yang sangat populer yang berjudul al-Kitab.
Sejarah mencatat, sastra sangat berkembang pesat di era keemasan Islam. Di masa kekhalifahan Islam berjaya, sastra mendapat perhatian yang amat besar dari para penguasa Muslim. Tak heran, bila di zaman itu muncul sastrawan Islam yang terkemuka dan berpengaruh. Di era kekuasaan Dinasti Umayyah (661 M - 750 M), gaya hidup orang Arab yang berpindah-pindah mulai berubah menjadi budaya hidup menetap dan bergaya kota.
Pada era itu, masyarakat Muslim sudah gemar membacakan puisi dengan diiringi musik. Pada zaman itu, puisi masih sederhana. Puisi Arab yang kompleks dan panjang disederhanakan menjadi lebih pendek dan dapat disesuaikan dengan musik. Sehingga puisi dan musik pada masa itu seperti dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan.
Sastra makin berkilau dan tumbuh menjadi primadona di era kekuasaan Daulah Abbasiyah - yang berkuasa di Baghdad pada abad ke-8 M. Masa keemasan kebudayaan Islam serta perniagaan terjadi pada saat Khalifah Harun Ar-Rasyid dan puteranya Al-Ma’mun berkuasa. Pada era itu, prosa Arab mulai menempati tempat yang terhormat dan berdampingan dengan puisi. Puisi sekuler dan puisi keagamaan juga tumbuh beriringan.
Para sastrawan di era kejayaan Abbasiyah tak hanya menyumbangkan kontribusi penting bagi perkembangan sastra di zamannya saja. Namun juga turut mempengaruhi perkembangan sastra di Eropa era Renaisans. Salah seorang ahli sastrawan yang melahirkan prosaprosa jenius pada masa itu bernama Abu ‘Uthman ‘Umar bin Bahr al- Jahiz (776 M - 869 M) - cucu seorang budak berkulit hitam.
Berkat prosa-prosanya yang gemilang, sastrawan yang mendapatkan pendidikan yang memadai di Basra. Irak itu pun menjadi intelektual terkemuka di zamannya. Karya terkemuka Al-Jahiz adalah Kitab al-Hayawan, atau ‘Buku tentang Binatang’ sebuah antologi anekdot-anekdot binatang - yang menyajikan kisah fiksi dan non-fiksi. Selain itu, karya lainnya yang sangat populer adalah Kitab al-Bukhala, ‘Book of Misers’, sebuah studi yang jenaka namun mencerahkan tentang psikologi manusia.
Pada pertengahan abad ke-10 M, sebuah genre sastra di dunia Arab kembali muncul. Genre sastra baru itu bernama maqamat Sebuah anekdot yang menghibur yang diceritakan oleh seorang pengembara yang menjalani hidupnya dengan kecerdasan. Maqamat ditemukan oleh Badi’ al- Zaman al-Hamadhani (wafat tahun 1008 M). Dari empat ratus maqamat yang diciptakannya, kini yang masih tersisa dan bertahan hanya 42 maqamat.
source:fai.uhamka.ac.id
Saturday, March 15, 2008
Pengajaran Bahasa Arab Humanis
Pendahuluan
Masalah pendidikan merupakan masalah yang tak habis-habisnya dibicarakan serta menjadi perdebatan para pakar ilmu pendidikan hingga masyarakat umum. Keberadaan pendidikan di Indonesia yang saat ini mulai menggeliat dan mencoba bangkit dari keterpurukannya dengan melakukan cukup banyak upaya-upaya inovatif baik dari segi manajemen hingga metode-metode mengajar yang efektif seperti munculnya kurikulum berbasis kompenetensi (KBK) hingga KTSP, disentralisasi pendidikan, otonomi pendidikan dan lain sebagainya. Baik dari segi manajemen dan metode-metode mengajar tidak sedikit yang mengadopsi dari metode barat dalam upaya bangsa barat meningkatkan kualitas pendidikan negara-negara mereka. Demikian pula bangsa-bangsa timur yang juga cukup gigih menggali sistem pendidikan yang bersandar pada kultur dan nuansa kerakyatan dalam upaya mereka mengembalikan pendidikan sebagai sistem yang naturalis.
Ketika kita melirik ke dalam dunia pendidikan Islam di Indonesia, maka dengan sedikit memotret perjalanan sejarah dapat kita temukan perjalanan yang sangat panjang bagi pendidikan Islam. Pendidikan keagamaan yang mulanya hanya dirintis dengan pengajaran membaca al-Qur'an, melafalkan serta mempelajari huruf-huruf Arab hingga akhirnya melembaga menjadi pusat-pusat pendidikan Islam yang muncul sebagai institusi milik umat serta masyarakat lapis bawah atau "akar rumput" yang berbasis kerakyatan serta bukan dari paket program kebijakan topdown dari pemerintah pusat atau daerah. Kini, dengan munculnya berbagai undang-undang dalam konteks inovasi pendidikan, maka, posisi lembaga-lembaga pendidikan Islam menjadi dilematis dan terancam terdegradasi. Contohnya saja madrasah yang menjadikan dirinya "sekolah umum plus", kini harus kerepotan dengan tuntutan peran dan fungsinya dalam upaya membagi pengetahuan umum dan materi-materi keislamannya ditambah lagi rendahnya kualitas sumber-sumber daya pembelajaran, baik sumber daya guru dan minimnya fasilitas pembelajaran.
Kondisi-kondisi di atas tentu saja berimplikasi pada metode-metode yang dipakai tenaga pengajar dalam mentransfer ilmu pengetahuan kepada para siswanya. Dengan kondisi "terjepit" maka terjadi upaya-upaya mendidik dengan metode yang terkesan memaksa dan menjejal-jejalkan ilmu pengetahuan ke dalam otak siswa. Penekanan pendidikan ke ranah kognitif dengan menafikan ranah afektif dan psikomotorik siswa pun tak terhindarkan lagi. Akibatnya, sekolah maupun lembaga pendidikan seperti "pabrik" yang mencetak manusia-manusia mesin siap kerja. fenomena ini berlaku juga pada pendidikan Islam dalam hal pengajaran bahasa asing khususnya Arab. Bahasa Arab yang merupakan sebuah sarana untuk menghantarkan para siswanya memahami dan menghayati materi-materi keislaman disampaikan dengan cara-cara serupa di atas. Banyaknya beban materi pelajaran bahasa Arab dan kurangnya kreatifitas guru dalam menggunakan metode mengajar menjadikan bahasa Arab sebagai momok bagi siswa bahkan bagi mahasiswa perguruan tinggi Islam sendiri. Pelajaran bahasa Arab terkesan dingin dan kaku dan pada akhirnya hanya melahirkan sebuah verbalisme bahkan aktivisme, sehingga tidak heran wacana perdebatan simbol agama dan penggunaan bahasa Indonesia dalam sholat mungkin saja berakar dari jauhnya bahasa Arab dari jangkauan masyarakat kita sehingga memerlukan metode pengajaran yang baru dan lebih fresh ke depan.
Pendidikan Yang Humanis
Sebenarnya trend humanisme dalam segala bidang termasuk pendidikan yang kembali marak pada akhir tahun 90-an dan awal tahun 2000 tidak lepas dari rentetan perjalanan sejarah yang sangat panjang. Sebagaimana kita ketahui, ide-ide pembaharuan dan usaha untuk lebih menghargai akal dan kemanusiaan lahir dari pemberontakan pada nilai-nilai Gereja abad tengah atau lebih kita kenal era Renaisance. Al-Jabiri dalam bukunya tercantum bahwa kebangkitan Eropa modern yaitu mekanisme kembali ke "prinsip-prinsip dasar" sebagai acuan dan titik tolak dengan cara menghidupkan kembali warisan Yunani-Romawi abad 12 M yang kemudian menandai era bangkitnya "Humanisme". Era Humanisme berupaya melihat secara jernih masa lalu, menggali serta melampauinya untuk kepentingan masa depan. Dari sini dapat kita lihat lahirnya para pemikir dan filosof yang mengusung teori-teorinya yang humanis. Misalnya Herbart yang menyatakan untuk melihat kembali bahwa pendidikan itu adalah bentuk yang natural alamiah dan harus dikembalikan dalam bentuk yang natural pula.
Seorang pakar matematika, fisika, dan filsafat, tetapi memiliki perhatian yang besar terhadap pendidikan, A.N.Whitehead, berpendapat bahwa ada tertib di alam semesta, yaitu bahwa ada hukum alam yang mengatur segala sesuatu di dalam jagad raya ini. Hukum ini adalah hukum kemajuan dan perkembangan. Manusia merupakan bagian dari alam semesta ini, maka ia juga terkena hukum perkembangan. Menurutnya, perkembangan yang disebut ritme kehidupan itu menjurus ke tahap perkembangan yang lebih tinggi. Lebih sederhananya, bahwa setiap anak memiliki potensi bawaan menuju kemajuan dan perbaikan dan akan berjalan lambat tanpa intervensi luar yaitu pendidikan dan sosialisasi. Pendidikan hanyalah pelengkap pertumbuhan dan tidak dapat mengganti pertumbuhan itu dari dalam. Ia sangat mengecam anggapan bahwa akal budi manusia hanya bersifat reseptif dan responsif terhadap stimulus.
Dari pandangan di atas dapat kita pahami bahwa pendidikan memiliki memiliki tujuan, yaitu perubahan dan perkembangan dalam diri seorang peserta didik dan dalam perilaku. Pendidikan memiliki tujuan yang lebih luas dari hanya sekedar perkembangan kognitif dimana yang dituntut banyaknya hafalan dan penguasaan materi di dalam otak peserta didik. Kita harus mengakui bahwa aspek kognitif merupakan elemen yang mendasar dalam pertumbuhan individu, namun tidak menjamin akan adanya perubahan dan pertumbuhan. Hendaknya kita dapat memandang bahwa sebuah proses belajar adalah sebuah proses yang bertujuan meningkatkan kemampuan individu dalam mengorganisir dunianya baik dari sisi internal maupun eksternal.
Motivasi merupakan sandaran utama dalam pendidikan yang humanis. Hal ini dikemukakan oleh Abraham Maslow bahwa pendidikan pada dasarnya adalah pengembangan motivasi. Di dalamnya dituntut peranan seorang tenaga pengajar dapat meningkatkan motivasi para peserta didiknya dalam mengaktualisasikan diri. Dalam proses belajar-mengajar terdapat proses-proses pengembangan motivasi, memahami diri, kemauan untuk berubah, kecenderungan akan kebaikan, mampu bekerjasama, serta memahami berbagai cara belajar.
Bagi pendidikan yang humanis, cara-cara belajar berupa pencekokan informasi dan hafalan hanya akan mendorong suatu sistem belajar yang pasif. Proses belajar-mengajar adalah sebuah transaksi manusiawi, para peserta didik dibiasakan belajar dalam kondisi yang menyenangkan tanpa merasakan beban (working under pressure). Bukankah berbeda orang yang letih karena berlari tetapi hatinya senang dan bangga dengan orang yang berlari karena terpaksa?. Pendidikan bukan sekedar proses keterampilan dan pengetahuan akan tetapi mengenai hubungan antar manusia yang berinteraksi untuk meningkatkan kualitas, moral, dan harkat martabat manusia.
Pendidikan Bahasa Arab; Dari Audio-Lingual Ke Psikodinamik
Penulis mencoba menggunakan istilah "Pendidikan" bahasa Arab bukan pengajaran maupun pembelajaran. Hal ini didasarkan karena proses belajar-mengajar bahasa asing bukan sekedar upaya mentransfer materi kebahasaan tetapi terdapat di dalamnya usaha pengembangan diri, motivasi, dan aktualisasi melalui metode belajar yang menyenangkan, dan sikap emphati yang tinggi melalui cross culture understanding.
Begitu banyak upaya-upaya inovatif dalam rangka menjadikan bahasa Arab menjadi pelajaran yang menyenangkan baik dari buku-buku yang menyajikan sistem belajar sistematis hingga metode pembelajaran yang mudah dan cepat dipahami para peserta didik. Ada dua fenomena yang menonjol dalam metode pendidikan bahasa Arab, yang pertama mewakili metode yang telah lama dipakai dan mungkin hingga kini dan menjadi trend pada pertengahan tahun 80-an, yaitu metode audio-lingual. Yang kedua adalah metode yang sempat dibicarakan dan menjadi bahan diskusi dan seminar di Eropa dan Amerika, yaitu metode psikodinamik. Adapun uraiannya adalah sebagai berikut :
1. Metode Audio-lingual
Metode ini lahir dari pandangan dasar mengenai pemahaman bahasa sebagai sistem tanda bunyi yang bermakna dan bersifat arbitrer dan konvensional. Bahasa adalah bunyi-bunyian bermakna yang menjadi sarana komunikasi antar manusia. Metode ini menitik beratkan pada latihan mendengarkan dan mengucapkan terlebih dahulu sebelum melangkah kepada latihan membaca menulis. Ada empat ciri pokok yang menjadi dasar metode audio-lingual, yaitu merujuk pada pendapat John B. Carrol dalam artikelnya "Research on Teaching Foreign Language" dalam buku Handbook of Research Teaching, empat ciri itu adalah :
a. Item-item disajikan dan dipelajari secara normal dalam bentuk percakapan yaitu melatih lidah dan telinga.
b. Metode pengajaran berdasarkan atas analisa perbandingan antara bahasa ibu dan bahasa tujuan secara ilmiah dan cermat.
c. Penggunaan Pattern practice. Yaitu pembentukan dan pelaksanaan kebiasaan, karena dengan kebiasaan, maka, seseorang akan dapat melakukan pembenaran dengan belajar dari kesalahan.
d. Keinginan atau pentingnya belajar ditekankan untuk membuat jawaban-jawaban dalam situasi yang meniru situasi komunikasi "kehidupan sehari-hari" sedapat mungkin.
Penggunaan metode audio-lingual di lembaga-lembaga pendidikan Islam memang telah lama dilakukan dengan mengedepankan kemampuan mengucapkan dan hafalan yang banyak terhadap materi gramatikal bahasa Arab. Di satu sisi, pembentukan kebiasaan dalam berbahasa akan membentuk sebuah instink kebahasaan (dzawq) yang kuat pada peserta didik. Namun tentu saja di sisi lain, seiring perjalanan waktu metode ini mulai dirasakan kurang efektif mengingat sosialisasi bahasa Arab jauh tertinggal di banding dengan bahasa Inggris. Keengganan untuk mempelajari bahasa Arab disebabkan muatan materinya yang berat dan hafalan yang begitu banyak dengan cara yang kurang menyenangkan atau working under pressure, serta pemakaian istilah yang kurang bermanfaat dan jarang dipakai. Buku-buku yang digunakan banyak yang berstandar untuk mereka yang memang sejak kecil telah biasa menggunakan dan mendengar bahasa Arab. Fakta membuktikan bahwa mereka yang menggunakan bahasa Arab secara baik dan fasih adalah mereka yang telah lama tinggal di luar negeri.
Metode instruksi dalam audio-lingual memang terkesan menafikan hubungan emosional antara guru dan siswa akan tetapi di dalamnya masih terdapat upaya reward yang masih dipakai dalam metode inovatif. Metode ini memang hanya akan dapat hidup dan efektif ketika digunakan oleh seorang tenaga pengajar yang kreatif dan inovatif.
2. Metode Psikodinamik
Metode ini lahir sebagai respon terhadap pentingnya pendidikan yang humanis dan pandangan bahwa kegagalan pendidikan bahasa asing disebabkan metode yang diterapkan kurang melihat pada aspek-aspek psikologis peserta didik yang ternyata juga sangat berperan dalam keberhasilan belajar mereka serta sistem belajar-mengajar bersifat ekspositori yang dapat mendorong kepasifan belajar.
Psychodinamics adalah suatu istilah yang berasal dari bahasa Yunani yang maksudnya "apa yang terjadi dalam diri dan antara manusia". Psikodinamik adalah metode yang sempat menjadi perbincangan di Amerika dan Eropa. Metode ini berusaha melihat pendidikan sebagai upaya pengembangan motivasi diri para peserta didik sebagai salah satu faktor berhasilnya proses belajar-mengajar. Metode yang saat ini sepertinya masih dirintis untuk mencari formula yang tepat seperti munculnya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) sempat mengkritik cara belajar bahasa yang diterapkan dengan metode audio-lingual . cara belajar yang mengikuti cara anak belajar bahasa pada ibunya dipandang kurang relevan saat ini. Cara belajar yang meniru ucapan dan dilakukan secara berulang-ulang mirip sekali seperti belajar burung beo. Noam Chomsky, seorang ahli bahasa dari Massachussets Institute of Technology, mengatakan bahwa belajar bahasa yang diterapkan yang demikian hanya mementingkan struktur permukaan (surface structure) bahasa ibu saja, sedangkan makna bahasa (deep structure) itu sendiri, yang tersimpan dalam diri si pembicara, terabaikan. Sejak revolusi bahasa Chomsky ini, maka para ahli bahasa mulai mengalihkan perhatiannya pada segi psikologis belajar bahasa. sekurang ada tiga metode yang muncul yaitu :
a. Suggestopedia
Pencetusnya adalah Lozanov, dinamakan juga suggestology. Ialah penerapan suatu sugesti ke dalam ilmu mendidik. Metode ini dipakai di beberapa sekolah di Eropa atau di Amerika yang dimaksudkan membasmi suggesti dan pengaruh negatif yang tak disadari bersemai pada peserta didik dan menghapus perasaan takut (fear), takut salah, perasaan tidak mampu dan menghadapi hal-hal yang baru. Akan tetapi metode ini tidak luput dari kecacatan dan tampaknya kurang tepat diterapkan di sekolah-sekolah formal di Indonesia.
b. Counseling Learning Method (CLM)
Metode ini pertama kali diketengahkan oleh Prof. Charles Curran pada tahun 1961, dan mulai dipakai di Loyola University, Chicago, pada tahun 1967. menurutnya, dengan "counseling", diharapkan timbulnya minat murid untuk memperoleh pandangan-pandangan baru dan munculnya kesadaran pribadi yang dapat memberikan stimulasi terhadap perkembangannya di samping mempererat hubungan dengan orang. "Learning" semata-mata berkenan dengan proses belajar mengajar secara intelektual. Pada metode ini dibidik terhadap munculnya minat belajar yang didorong melalui pengembangan harga diri dan perasaan kebersamaan. Metode ini memiliki ciri khas yaitu " Shared Task Oriented Activity" atau "cara belajar siswa aktif bersama". Dalam metode tersebut murid terlihat menyibukkan dirinya secara ihklas bukan dengan paksaan sampai ia mampu berkomunikasi.
c. The Silent Way
Dr. Gattengno mulai memperkenalkan metode ini lewat bukunya "Teaching Foreign Language in School; A Silent Way" . Metode ini dianggap cukup unik karena bukan hanya guru yang diminta diam 90 % dari alokasi waktu yang dipakai tetapi ada saat-saat tertentu di mana murid juga diam tidak membaca, tidak mengkhayal, tidak juga menonton video, tetapi mereka berkonsentrasi pada bahasa asing yang baru saja didengar. Gattegno berpendapat bahwa salah satu letak ketidaksempurnaan dari kebanyakan pengajaran adalah adanya tuntutan/paksaan untuk memperoleh kesempurnaan seketika. Para murid dibiarkan saja dahulu bersalah dalam berbahasa. Prinsip yang dipegang adalah adanya respek terhadap kemampuan murid untuk mengerjakan masalah-masalah bahasa serta kemampuan mengingat informasi tanpa adanya verbalisasi dan bantuan minimalpun dari guru.
Menurut hemat penulis, tidak semua dari metode-metode psikodinamik di atas dapat applicable di lembaga-lembaga pendidikan yang di dalamnya mengajarkan bahasa asing khususnya bahasa Arab. Hal ini disebabkan oleh beberapa kendala antara lain :
1. Kultur masyarakat yang berbeda-beda di setiap daerah
2. Pola pikir liberalis belum tepat diterapkan pada masyarakat yang menganut pola paternalistik.
3. Keterbatasan media atau sarana pembelajaran.
4. Minimnya profesionalisme guru di Indonesia.
Dari berbagai macam metode-metode yang kita simak di atas, mulai dari metode lama audio-lingual hingga metode psikodinamik yang dicoba diterapkan para humanis tidak terlepas dari cita-cita para ahli bahasa untuk membuat bahasa kedua seseorang menjadi lebih mudah. Belajar bahasa asing tidak sekedar sebuah perkembangan yang bersifat kognitif saja melainkan diharapkan juga dapat menyentuh sisi afektif dan psikomotorik dengan menjadikan proses belajar-mengajar sebagai pengembangan kemampuan akal dan pertumbuhan psikologis yang baik berupa akal budi dan sikap emphatik yang tinggi. Tentu semua ini bergantung pada kreatifitas dan sikap professional tenaga pengajar dalam menyajikan materi. Untuk pendidikan bahasa dibutuhkan seorang pendidik yang berkelayakan (qualified) yang bukan hanya mampu menguasai materi tetapi juga menguasai metode yang efektif serta mampu menjembatani dua budaya yang berbeda dari dua bahasa yang berbeda, serta mampu mengenal secara psikologis para peserta didik dan metode apa yang akan digunakan.
Penutup
Ada pertanyaan yang sangat menarik yang mungkin sering kita dengar, "Mengapa pelajaran bahasa dan pelajaran sejarah menjadi pelajaran yang paling membosankan saat ini?", hal ini terkait dengan jalan pengajaran yang harus ditempuh dan disusun dalam kurikulum pendidikan. jalan pengajaran yang salah satunya disebut dengan pengajaran konsentris, yaitu pelajaran yang dibicarakan dari seluruhnya tiap-tiap tahun dimana bahan pelajaran untuk tahun-tahun berikutnya terdiri atas ulangan dari bahan yang telah diberikan dengan tambahan seperlunya untuk memperdalam dan memperluas pengetahuan siswa- maka, berdampak terhadap pelajaran-pelajaran bahasa dan sejarah yang menjadi pelajaran membosankan. Metode pengajaran bahasa audio-lingual yang telah hampir habis masanya kini lebih banyak dikritik karena tidak humanis hingga melahirkan tawaran-tawaran metode baru yang lebih efektif dan manusiawi. Hal ini dilandasi oleh pendapat bahwa persoalan pendidikan bukan hanya persoalan transverisasi pengetahuan melainkan hubungan antar manusia yang saling bekerjasama dalam mengembangkan serta mengaktualisasi diri.
Pendidikan dalam Islam merupakan latihan fisik, mental dan moral bagi manusia dalam menunaikan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi. Dalam upaya memahami ajaran-ajaran Islam, tentu saja bahasa Arab menjadi sarana utama. Namun fenomena yang terjadi bahasa Arab justru diajarkan kurang sesuai dengan prinsip agama Islam yaitu agama yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Akibatnya, bahasa Arab cenderung dihindari dan dijauhi dan tidak populer pada masyarakat Indonesia umumnya. Mudah-mudahan lahirnya metode-metode pendidikan yang inovatif dan humanis dapat membangkitkan minat dan kecintaan kita pada bahasa Arab. lahirnya kurikulum berbasis kompetensi yang mengedepankan metode-metode humanis dapat menjadi langkah inovatif ke depan menuju kebangkitan pendidikan di Indonesia. Semoga.
Saturday, March 1, 2008
Ada Apa dengan Ilmu Bahasa?
KATA ungkapan Arab, alinsan hayawan nathiq, artinya manusia adalah hewan yang mampu berpikir. tampaknya, klaim ini tidak otomatis berarti bahwa setiap manusia mampu berpikir kritis. Mungkin lebih tepat diartikan sebagai makhluk yang memiliki potensi untuk berpikir kritis, seperti halnya potensi atau bekal kodrati (innate capacity) untuk menguasai bahasa yang dominan di lingkungannya.
Para pengamat bahasa sudah lama menyaksikan lemahnya disiplin berbahasa di kalangan ilmuwan dan birokrat. Lihat saja saat mereka diwawancara wartawan TV. Banyak yang bahasanya tidak bernalar, alias amburadul. Rohaniawan Franz Magnis-Suseno berpendapat bahwa kerancuan berbahasa ini merupakan akibat malas berpikir.
Para peneliti sudah mengidentifikasi sejumlah kesalahan sintaksis dalam berbahasa, antara lain: subjek kalimat tidak jelas, kekacauan penggunaan kata kerja aktif-pasif dalam kalimat, preposisi dalam kalimat tidak tepat, kata transisi tidak tepat pada bagian awal kalimat, kata perangkai di dalam kalimat tidak tepat, diksi tidak tepat dalam mengungkapkan kalimat, ada bagian kalimat tidak berkoherenasi, hubungan kalimat-kalimat tidak kohesif, ketidaksejajaran bentuk(an) kata dalam kalimat, aksentuasi dalam kalimat tidak jelas, susunan kata (bagian kalimat) tidak logis, variasi kata dalam kalimat tidak tepat, tidak berkaidah ejaan dan tanda baca, makna kalimat tidak jelas, dan hubungan paragraf-paragraf tidak logis.
Bila bahasa diyakini sebagai alat berpikir, studi ilmu bahasa (linguistik dan sastra) seyogianya membekali mahasiswa (apalagi dosennya) kemampuan berpikir kritis (KBK), lebih kritis daripada mahasiswa dan dosen bidang studi lain. Bila bahasa diyakini sebagai alat komunikasi, studi ilmu bahasa (linguistik dan sastra) seyogianya membekali mahasiswa (apalagi dosennya) kemampuan berkomunikasi tulis, lebih produktif dan komunikatif daripada mahasiswa dan dosen bidang studi lain.
Namun, dalam kenyataan, kedua hipotesis di atas tidak terbukti. Banyak orang yang kritis dan produktif berkarya tulis padahal mereka tidak berlatar belakang linguistik atau sastra. Artinya, penguasaan pengetahuan kebahasaan, baik pengetahuan deklaratif maupun prosedural, tidak menjamin KBK maupun produktivitas berkarya tulis. Persoalannya, ada apa dengan linguistik?
Linguistik secara keseluruhan membantu kita lebih memahami fenomena kebahasaan daripada fenomena sosial. Temuan ini bisa dijelaskan dengan pendekatan Saussure yang sejak awal menekankan bahasa lisan sebagai objek utama kajian linguistik modern. Mudah dipahami bila linguistik diterjemahkan ke dalam bahasa Arab sebagai Allisaniyat bukan Ilmu Lughat.
Perkuliahan linguistik
Sebanyak 73 mahasiswa semester 8 yang telah mengambil 22 sks mata kuliah linguistik di¬survei untuk mengetahui pandangan mereka ihwal kontribusi mata-mata kuliah itu bagi pengembangan KBK. Para responden sudah cukup matang untuk bersikap kritis ihwal praktik pendidikan yang mereka lakoni selama ini.
Mayoritas responden (72%) menilai bahwa secara keseluruhan bangsa Indonesia kurang mampu berpikir kritis, dan ini disebabkan oleh dua hal, yaitu pendidikan di Indonesia tidak membuat siswa berpikir kritis (46%), dan budaya Indonesia lebih berkarakter feodal (41%). Sebagai mahasiswa, mereka merasa memiliki KBK, dan kemampuan ini terutama disebabkan oleh pendidikan yang mereka peroleh (57%) dan karena pergaulan dan lingkungan tempat mereka tinggal (40%). Hanya 0,13% dari mereka yang menyebutkan karena mengambil perkuliahan linguistik.
Bagi mayoritas reponden (72%), bahasa Indonesia lebih berperan sebagai alat berinteraksi sosial dan hanya 0,41% yang menganggapnya sebagai alat berpikir. Artinya mereka hampir tidak merasa bahwa berpikir itu dengan bahasa. Ini mungkin berarti (1) berkomunikasi atau berbahasa (lisan) tidak identik dengan berpikir, (2) adanya bermacam tingkatan berpikir, dari yang tidak disadari sampai yang sangat disadari, dan (3) berpikir mungkin tidak selalu difasilitasi bahasa, karena yang berlogika itu si penutur, bukan bahasa.
Manfaat perkuliahan linguistik bagi responden terutama membantu memahami fenomena bahasa (57%) dan fenomena sosial (23%). Perkuliahan linguistik juga membuat mereka lebih sadar akan perilaku bahasa lisan (32%) daripada bahasa tulis (15%) pada diri sendiri, terutama pada orang lain. Andaikan ada kontribusinya terhadap KBK, yang paling berkontribusi adalah sosiologi bahasa (71%) dan yang paling tidak berkontribusi adalah fonetik dan fonologi (65%).
Mayoritas responden melihat akademisi yang kritis adalah mereka yang banyak karya tulisnya (53%) dan cenderung berbeda pendapat dengan orang lain (34%). Tidak satu responden pun (0%) menyebut tingginya gelar akademis sebagai indikator KBK. Agar mahasiswa mampu berpikir kritis, para responden menyarankan agar kurikulum S-1 menumbuhkan suasana pembelajaran demokratis di kelas dan dalam konsultasi dengan dosen (71%).
Pendidikan, nalar, dan bahasa
Nalar, seperti halnya matematika dan bahasa, lebih merupakan fasilitator daripada inisiator. Kita menggunaan nalar untuk mendapatkan yang kita mau bukan untuk menentukan yang kita mau. Menurut Calne dalam Batas Nalar: Rasionalitas dan Perilaku Manusia (2004), nalar, bahasa, dan matematika sama-sama berakar pada asal-usul yang begitu dinamis dan praktis, namun demikian dengan terbentuknya data base budaya kita, dari generasi ke generasi, ketiganya mampu mencapai puncak abstrak yang tak terkira tingginya. Nalar sudah dinaikkan ke tingkat logika simbolik, bahasa ke tingkat puisi metafisik, dan matematika ke tingkat teori probabilitas.
Nalar merajut argumen, sedangkan tata bahasa merajut kalimat, dan kosa-kata adalah simbol dari konsep-konsep. Perkuliahan linguistik secara keseluruhan pada dasarnya membekali mahasiswa pengetahuan ihwal bahasa yang berguna untuk merajut kalimat. Ini sama sekali tidak menjamin bahwa mahasiswa akan produktif merajut kalimat apalagi dalam wujud karya tulis. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa menguasai linguistik adalah X, dan berpikir kritis adalah Y. Antara X dan Y tidak ada kaitan sebab-akibat, tetapi saling memengaruhi. Pasti.
Kekuatan otak tidak berubah sejak Homo sapiens, umat manusia pertama kali muncul 200.000 tahun yang lalu, yang berevolusi adalah nalar (Calne 2004: 25), yakni tata bahasanya argumen. Nalar dan bahasa berkembang sama-sama sejak usia dini dan saling bergantung. Buktinya, antara lain, argumen-argumen dinyatakan lewat proposisi-proposisi, yakni kalimat-kalimat. Artinya, bernalar seperti halnya berbahasa harus dikembangkan lewat pembelajaran, baik formal maupun informal.
Pendidikan nasional sekarang ini belum membuat siswa berpikir kritis. Selama ini pendidikan bahasa melatih berbahasa sebagai proses berkomunikasi dengan kadar nalar yang rendah. Ini terbukti dengan amburadulnya bahasa di kalangan kaum terdidik Indonesia, yang tidak mungkin terjadi pada kaum terdidik yang berbahasa ibu bahasa Inggris.
Kelemahan ini dapat dijelaskaan sebagai berikut. Pertama, jumlah kosakata bahasa Inggris bisa jadi delapan kali lipat jumlah kosakata bahasa Indonesia. Artinya secara leksikal, konsep ihwal dunia para penutur bahasa Inggris jauh lebih banyak daripada konsep serupa yang dimiliki penutur bahasa Indonesia. Sebagai bahan perbandingan, penutur dewasa bahasa Inggris rata-rata memiliki perbendaharaan kata sekitar 50.000 kata, tetapi jumlah yang sebenarnya jauh lebih beragam. Pendidikan tinggi memberi perbendaharaan sekitar 80.000 kata (Calne 2004: 66).
Kedua, budaya literat menjadikan mereka, khususnya kaum terdidik, terbiasa menulis. Dalam pada itu, menulis telah terbukti sebagai kegiatan berbahasa yang paling mendukung terbentuknya keterampilan bernalar, yaitu kegiatan memecahkan masalah melalui proses linguistik dan kognitif yang kompleks seperti organizing, structuring, dan revising.
Sebuah penelitian dalam konteks SMA di AS juga berkesimpulan bahwa menulis mendukung nalar dan pembelajaran mata-mata pelajaran yang jauh lebih kompleks yang berguna bagi keberhasilan melakoni budaya berbasis teknologi dan informasi yang kompleks (Langer & Applebee, 1987). Jadi, pendidikan bahasa seharusnya didesain untuk menanamkan KBK, bukan sekadar keterampilan berbahasa.
Selama ini ada asumsi keliru bahwa mengajarkan keterampilan berbahasa secara otomatis berarti mengajarkan KBK. Kurikulum bahasa Indonesia selama ini tidak secara eksplisit menyatakan KBK sebagai tujuan pembelajaran bahasa. Ini berbeda misalnya dengan kurikulum Language Arts di sekolah-sekolah AS yang secara eksplisit mencantumkan penanaman KBK sebagai bagian dari tujuan kurikulernya.
Simpulan
Bagi masyarakat Indonesia yang berbudaya dengar-omong, komunikasi cenderung disinonimkan dengan komunikasi lisan yang tantangan nalarnya tidak secanggih komunikasi tulis. Secara kolektif, bangsa yang lemah budaya tulisnya cenderung lemah daya nalarnya. Secara individual, seorang yang produktif menulis akan lebih kritis daripada yang tidak produktif.
Jamu yang paling murah, tapi manjur untuk mengobati lemahnya KBK adalah pembenahahan pelajaran menulis dari SD sampai PT. Saat menulislah kita sadar terhadap apa yang kita ketahui dan ingin kita ungkapkan. Inilah yang disebut meaning making atau proses mengikat makna. Kesadaran seperti ini merupakan indikator KBK.
Dulu istilah kritis dalam pembelajaran bahasa lazim diartikan hanya sebagai pemahaman tingkat tinggi dalam pembelajaran membaca dan respons personal terhadap karya sastra. Dalam perkembangan terkini istilah ini dipakai dalam konsep critical pedagogy dan critical discourse analysis (CDA). Pendekatan kritis ini berimplikasi pada semua aspek pembelajaran seperti materi perkuliahan, proses belajar mengajar, serta hubungan dosen dan mahasiswa.
Selama ini ada kesan bahwa diskusi dalam perkuliahan linguistik lebih terkekang oleh isu-isu bahasa atau sastra yang terkelupas dari dunia sosial politik di luar ruang kuliah. Pendekatan kritis terhadap pendidikan bahasa menuntut komitmen terhadap transformasi sosial, keadilan, dan persamaan hak dan kewajiban sebagai bagian dari ciri kehidupan demokratis. Dosen dan pengajar pada umumnya mesti berperan sebagai agen perubahan sosial dan agen transformasi kultural dan intelektual.
Linguistik dengan segala cabangnya menawarkan pengetahuan dengan tingkat relevansinya yang beragam bagi pengembangan KBK. Kajian linguistik dengan basis data bahasa berguna untuk memahami aspek internal bahasa. Untuk meningkatkan kontribusinya bagi pengembangan nalar, mahasiswa harus dilatih menganalisis secara kritis konteks sosial bahasa dalam masyarakat.
Berwacana itu sesungguhnya berideologi. Wacana sebagai teks mengeksploitasi simbol-simbol linguistik. Wacana sebagai ideologi penuh dengan dominasi dan eksploitasi. Para mahasiswa mesti mampu menganalisis potensi-potensi dominasi dan eksploitasi. Singkatnya, kurikulum program linguistik seyogianya menawarkan perkuliahan Analisis Wacana Kritis atau Critical Discourse Analysis untuk membekali mereka keterampilan berpikir kritis.***
Penulis, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.